Kerja sama yang membahagiakan ini diawali oleh permintaan aktivis Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Apriyadi atau Andi dan Gugun Muhammad, pada saya. Konteksnya waktu itu ada pertemuan di Ciliwung Merdeka, tempat Sandyawan Sumardi, tokoh humanis dan perekat jejaring warga negara yang ingin keadilan dalam penataan kota Jakarta.
Rupanya Andi pernah membaca buku Menulis untuk Mengingat, hasil karya 12 warga Rusun Jatinegara Barat yang difasilitasi oleh teman-teman Islam Bergerak, saya sendiri, dan Yusni Aziz. Lalu ia meminta kami membuat hal yang sama tetapi di kantong-kantong JRMK dan khususnya tentang sejarah kampung.
Malam itu juga saya menghubungi teman-teman Islam Bergerak, yang segera bergerak, dan mengatakan “iya, ayo”. Ada Muhammad Azka Fahriza, GM Nur Lintang Muhammad, Rizki Affiat, Syahar Banu, dan Fatimah Zahrah. Yusni dan saya ikut serta lagi, dan kali ini ada beberapa relawan baru yang juga membantu: Iwan Setiawan, mantan wartawan Tempo dan sekarang pengusaha kopi, Azhar Irfansyah, Sabrina, dan Adela.
Tetapi setelah pertemuan antara fasilitator relawan dan JRMK untuk membahas konsep dan teknis dari program ini, kami memutuskan mengambil cara yang berbeda dengan metode sebelumnya di Jatinegara Barat.
Di Jatinegara Barat tujuan utama kami adalah memberi ruang bagi warga sendiri untuk menuliskan pengalaman mereka setelah dicabut dari tempat tinggalnya pasca penggusuran Agustus 2015. Waktu itu laporan media kebanyakan menggunakan perspektif yang bias kelas menengah.
Kami datang berinisiatif, menghubungi warga, menjelaskan maksud, dan setelah warga menerima, kami bercakap-cakap untuk menentukan ide tulisan. Lalu warga menulis dengan tangan di buku tulis, yang kemudian kami ketik dan sunting sedikit dengan persetujuan warga.
Dengan JRMK tujuannya berbeda. JRMK meminta kami membantu memperbaiki citra kampung di media dan di masyarakat. Kampung selama ini kena cap “kumuh, dihuni penghuni liar yang menyabot tanah orang”. Cap-cap sepihak, terutama dilontarkan pihak-pihak yang pro penggusuran, dijiplak media tanpa pengecekan lapangan yang berempati dan berperspektif keadilan. Kalau ada yang liputan pun hanya untuk menggarisbawahi asumsi buruk saja.
Tetapi Gugun dan Andi punya permintaan lain: ada relawan anak muda kampung yang terlibat.
Untuk kelompok pertama kami memilih lima kampung kota yang lokasinya berdekatan satu sama lain dan warganya terorganisir dengan relatif baik: Kampung Lodan, Kampung Kerapu, Kampung Tongkol, Kampung Akuarium, semua di Jakarta Utara, dan Kampung Kunir di Jakarta Barat. Tiga kampung pertama terancam digusur dan sudah berinisiatif memotong sendiri rumah mereka beberapa meter, sementara Kampung Akuarium dan Kampung Kunir sudah digusur.
Mekanisme penulisan sejarah di lima kampung ini melibatkan satu hingga dua fasilitator, didampingi satu hingga dua anak muda di masing-masing kampung. Fasilitator dan warga kemudian berkolaborasi, mulai dari menentukan siapa yang diwawancarai, yang mewawancarai, sampai mengirimkan laporan lapangan. Setelah laporan lapangan dan wawancara diolah, masing-masing fasilitator menulis cerita sejarah yang kami putuskan untuk diterbitkan di website kampungkota.net, juga dalam bentuk buku digital. Kalau ada rezeki mungkin dicetak.
Awalnya kami sempat berpikir untuk melatih relawan anak muda ini menulis, lalu mereka yang mengerjakan semuanya, sementara kami hanya membantu menyunting. Tetapi setelah berjam-jam berembuk, kami sadar, tugas membalikkan citra ini bukan perkara gampang. Jika tujuan utamanya demikian, bukan transfer keterampilan menulis, maka bentuk program bukan pelatihan.
Tetapi bukan berarti kami jalan sendiri bak wartawan biasa yang datang dua jam lalu pulang. Tulisan-tulisan ini tetap merupakan hasil kolaborasi. Dan lumayan, relawan anak muda, misalnya May dari Kampung Tongkol, mengatakan setelah ikut program ia jadi tahu hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui tentang sejarah kampung.
Untuk setiap kampung, tingkat kolaborasinya berbeda-beda. Tetapi selemah-lemahnya iman, tak ada satu pun fasilitator yang sungguh-sungguh sendirian dalam bekerja. Muhammad Azka, misalnya, kebetulan kesulitan mendapatkan relawan anak muda yang punya waktu luang di tengah kesibukan pekerjaan mereka sehari-hari. Jadinya ada hari-hari saat ia mewawancarai sesepuh Kampung Kerapu tanpa didampingi relawan anak muda. Tapi tetap saja tingkat interaksi Azka dengan warga kampung intens: dia sampai menginap segala di sana.
Yang membuat program ini berharga adalah hubungan-hubungan yang terbentuk sepanjang proses. Kami menjalankan program tanpa dana dari luar tetapi dari kantong sendiri-sendiri. Fasilitator menanggung sendiri biaya transportasinya, sementara kampung yang kebagian jadi tuan rumah akan menyediakan penganan kecil, teh, kopi, air putih, kombucha kembang telang, dan jus nanas difermentasi yang disajikan di gelas anggur.
Kami berharap bisa melanjutkan program ini di banyak kampung, meski saat ini diutamakan kampung yang berkontrak politik dengan gubernur terpilih Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Kami sadar konstelasi politik saat ini petanya rumit tapi justru dibaca kelewat hitam putih oleh banyak orang. Tentu, program ini berisiko dituduh program pendukung Anies, dengan demikian kami bisa saja dicap dengan sejumlah label yang menyederhanakan.
Program ini memang program politis, dalam artian ini cara warga berpolitik untuk merebut hak atas kota. Tapi ini bukan program politikus, ini programnya warga sendiri: swadaya, mandiri. Kampung Kota Merekam melampaui politik elektoral karena ia, sekali lagi, perkara hak atas kota.
Kami dibantu oleh banyak orang yang satu visi dengan kami: bahwa kampung kota juga bagian penting dari kota, semodern apapun ia.
Misalnya, kami mengundang sejarawan JJ Rizal dan fotografer Yoppy Pieter yang bersedia berbagi pengetahuan berharga dengan kami. Kami juga berterima kasih pada para fotografer yang bersedia mengambil foto keren kampung-kampung tanpa pamrih uang. Kami sejauh ini juga menerima sumbangan dari pribadi-pribadi yang memiliki visi yang sama mengenai kampung untuk mencetak buku, membeli domain, dan hosting.
Total dari bulan Juni sampai Oktober 2017 untuk tahap pertama, kami bertemu tujuh kali, setiap kampung pernah kebagian, artinya kami semua sudah pernah merasakan kehangatan masing-masing kampung.
Jika Mas Iwan sang pengusaha kopi bisa datang ke pertemuan ia kerap membawa kopinya, Oleto. Ia bahkan pernah datang membawa biji kopi Flores Bajawa yang lalu dia ulek di cobek warga Kampung Kunir. Hasilnya: kopi yang layak diseruput pelan-pelan dan dinikmati bersama teman-teman kampung kota. Nikmat.