Kampung Kota Merekam merupakan sebuah ikhtiar untuk mewujudkan visi kota berkeadilan sosial dan tanah untuk rakyat sesuai amanat kemerdekaan Indonesia dan UUD 1945. Mediumnya tulisan, metodenya sejarah lisan. Visi tersebut penting karena ribuan warga kampung-kampung Jakarta harus bertahan tanpa kepastian hukum kepemilikan lahan yang telah mereka olah selama puluhan tahun. Singkatnya, mereka terancam tergusur dari kampung yang sudah menjadi tanah airnya.
Tulisan kami pilih menjadi medium karena efektif menjangkau semua warga kota Jakarta untuk menggalang dukungan bagi terwujudnya kota yang adil untuk semua. Sementara sejarah menjadi metode karena bisa menunjukkan bagaimana warga kampung secara mandiri membangun pemukiman—beserta segala perlengkapannya seperti sanitasi, listrik, dan ruang hijau—yang seharusnya dijamin oleh negara.
Ikhtiar Kampung Kota Merekam ini terbentuk dari kolaborasi berbagai unsur warga Jakarta. Unsur yang pertama adalah subjeknya sendiri, yaitu kampung-kampung yang yang berada di bawah asuhan Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Komunitas Anak Kali Ciliwung. Sementara unsur yang kedua adalah kumpulan penulis yang mungkin bisa disebut “radical amateurs”. Banyak penulis amatiran yang bergabung dalam ikhtiar ini. Ada yang aktif di Islam Bergerak, ada editor The Conversation Indonesia, ada mantan wartawan Tempo. Ada juga pewarta Antara dan seorang arsitek yang kesasar di mari—mungkin mereka tergoda oleh hantu noni Belanda di gudang tua belakang Kampung Tongkol.
Gugun Muhammad, salah seorang dedengkot Komunitas Anak Kali Ciliwung, pernah bilang kalau beragamnya latar belakang para kolaborator Kampung Kota Merekam menunjukkan bahwa visi kota berkeadilan sosial sebetulnya punya potensi dukungan besar. Kami rasa juga begitu.
Sebagaimana terlihat di rubrik “Rekam”, ada beberapa pemuda kampung harapan bangsa yang mengajukan diri menjadi reporter yang bertugas mencari data dan mewawancara para tetua. Setelah terkumpul, baru para penulis amatiran itu merangkumnya dalam satu kesatuan yang Anda baca sekarang.
Satu lagi, kami harus mengakui bahwa banyak aliran dana dan bantuan untuk proyek ini. Dan tidak semuanya bisa diaudit karena sumbangannya macam-macam. Ada donor lokal gorengan tahu tempe untuk peserta rapat yang kelaparan, lengkap dengan kopi asoy cap Oleto. Ada juga pribadi-pribadi dermawan yang menyisihkan sebagian uang gaji bulanan yang tidak seberapa untuk mencetak kumpulan tulisan ini menjadi buku.
Kepada semua pihak itu kami ucapkan terimakasih.