Setelah mendapat bantuan dari pemkot DKI Jakarta untuk membangun shelter darurat bersama-sama, warga Kampung Akuarium juga mendapatkan pelayanan kebersihan melalui penurunan tim Jumantik (Juru Mantau Jentik Nyamuk), dan program Grebek Sampah. Di hari jumat, 26 Januari 2018, Tim Jumantik melakukan aksinya dengan mengecek berbagai tempat penampungan air, seperti jerigen, tempayan, dan banyak tempat lain. Jika mereka menemukan jentik nyamuk, pembasmian dengan obat akan dilakukan. Setelah pengecekan berlangsung, Tim Jumantik tidak menemukan satupun jentik-jentik nyamuk di tengah puing. Meski hasillnya nihil, warga merasa sangat terbantu dengan…Continue Reading “Kampung Akuarium Mulai Berbenah”

Tahun 2017 sudah berlalu. Keadaan Kampung Akuarium masih belum banyak berubah. Bedeng-bedeng darurat masih berdiri dimana-mana, warga juga masih melanjutkan kesehariannya seperti biasa. Hal yang berbeda dan sangat membahagiakan adalah timbulnya harapan yang tinggi menjelang pembangunan shelter sementara, yang baru saja dimulai pengerjaannya. Warga melakukan dzikir bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas pembangunan shelter itu. Kegiatan itu dilakukan bersama warga Kampung Akuarium tidak hanya untuk berdoa demi kebaikan kampung dan warga, tetapi juga untuk menutup tahu 2017. Setelah dzikir bersama, warga mulai menyiapkan untuk makan-makan…Continue Reading “Penghujung Tahun di Kampung Akuarium”

Oleh: Ari Muhrijal Pada hari Sabtu, 7 oktober 2017, warga Kampung Akuarium bersama Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) mengadakan acara “Penataan Kampung: Pemenuhan Hak Atas Perumahan Layak dan Terjangkau” untuk memperingati Hari Habitat Sedunia. Acara ini dihadiri oleh warga dari 16 kampung yang tergabung dalam JRMK, jurnalis, mahasiswa arsitektur dan Sandiaga Uno (Wakil Gubernur Jakarta terpilih). Ada lima kegiatan utama selama acara berlangsung. Pameran profil kampung dan pedagang kaki lima, peluncuran tulisan Kampung Kota Merekam, penyerahan buku profil 16 kampung dan 3 pedagang kaki lima…Continue Reading “Perayaan Hari Habitat Sedunia di Kampung Akuarium”

Senyum di wajah Rakha dan Dimas merekah saat kedua remaja itu menceritakan karya mereka yang bernama Rumah Langit. Sebuah instalasi berwujud sepetak ruang terbuka beratap ijuk yang ditopang kaki bambu tinggi bercat merah putih. Saat ditanya kenapa mereka membuat rumah setinggi itu, spontan mereka menjawab, “Supaya bisa ngawasin satpol PP dari jauh.” Kepolosan khas remaja itu kontan memancing tawa banyak orang yang hadir. Begitulah secuplik kegembiraan warga korban penggusuran Kampung Akuarium di sebuah sore, pertengahan Agustus lalu. Banyak warga berkumpul memadati tanah lapang di bekas…Continue Reading “Menyalakan Harapan di Kampung Akuarium”