Kongres Jaringan Rakyat Miskin Kota

Categories Featured, Kabar

Tepuk tangan warga bergemuruh saat calon koordinator JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota), Eni (49) dan Djumaing (53) selesai menyampaikan kampanye mereka. Semua visi misi kedua kandidat telah disampaikan dengan gaya khas mereka sendiri. Djumaing berbicara dengan senyumnya yang khas dan penuh semangat. Eni tetap dengan ketegasan yang membara.
JRMK sedang mengadakan pemilihan koordinator baru untuk periode 2018-2021, untuk mencari penerus Eni Rochayati yang berakhir masa jabatannya di bulan Juni lalu. Eni pun mencalonkan diri kembali, dan harus berkompetisi dengan Djumaing di dalam pemilihan langsung dan kongres koordinator yang akan dilaksanakan pada 6-7 Oktober 2018. Namun sebelum acara itu dilaksanakan, kedua kandidat harus berkampanye keliling 16 kampung dan 4 PKM (Pedagang Kecil Mandiri). Masa kampanye dimulai dari tanggal 17 September, dan akan berakhir pada 3 Oktober 2018.
“Jika saya terpilih menjadi koordinator lagi, saya ingin membesarkan JRMK dan berjuang bersama warga melalui 3 metode yaitu pengorganisasian, advokasi dan jaringan dalam memperjuangkan hak dasar warga yaitu hak atas pendidikan, kesehatan dan tempat tinggal untuk menuju kota yg mandiri, adil dan lestari dan keadilan yang merata utk semua warga kota.” ujar Eni saat menjabarkan visi misinya.

Kampanye di Kampung Akuarium. ©Tubagus Rachmat

Eni sendiri hanya seorang ibu rumah tangga tamatan SMEA yang tinggal di Kampung Marlina, Muara Baru. Meski begitu ia selalu merasa terpanggil untuk melakukan kegiatan sosial tanpa digaji. “Saya bisa menjadi seperti sekarang ini karena bimbingan dari UPC (Urban Poor Consortium). JRMK adalah salah satu organisasi yang terlahir dari UPC dan saya bergabung di JRMK sejak tahun 2004,” tambahnya.
Sedangkan Djumaing adalah ayah beranak tiga yang bekerja di suatu perusahaan ekspedisi lokal. Ia juga lulusan SMA dan sekarang berdomisili di Kampung Kerapu. “Motivasi saya mencalonkan diri sebagai koordinator JRMK karena saya ingin menjadi salah satu orang yang mengambil bagian untuk membesarkan JRMK, saya melihat perjalanan panjang JRMK dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat yang di miskinkan oleh pemerintah” ujar Maing, sapaan akrabnya.
“Visi saya jika terpilih adalah menyatukan suara rakyat miskin untuk melawan kebijakan, melakukan pelatihan kepada warga dan mengupayakan rakyat agar dapat mandiri untuk dapat meningkatkan ekonominya,” tegasnya.
Ada yang unik dari sistem pemilihan umum JRMK. Umumnya yang kita tahu, warga harus mendatangi TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk mendukung jagoannya. Namun pada pemilihan langsung JRMK, anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) akan menjemput surat suara langsung dari rumah ke rumah, dan surat akan diserahkan sehari sebelum pemilihan langsung dilakukan.
Untuk pemilihan langsung dari warga 16 kampung dan 4 PKM akan dilakukan pada tanggal 6 Oktober 2018. Sedangkan organisasi jaringan JRMK seperti Urban Poor Consortium (UPC), Universitas Indonesia (UI), Rujak Center For Urban Studies (RCUS), Architecture Sans Frontieres (ASF), Ruang Rupa (RURU), Kampung Kota Merekam (KKM), Serikat Becak Jakarta (SEBAJA) dan Tim Hukum Pertanahan akan diberikan hak suara memilih pada saat kongres JRMK dilaksanakan di tanggal 07 Oktober 2018.
Meski memiliki visi misi berbeda, pada akhirnya kedua kandidat pun sepakat jikalau tidak terpilih, mereka akan tetap aktif memperjuangkan warga yang dimiskinkan oleh pemerintah.

Siti Maymunah
Lahir dan besar di Kampung Tongkol. Saat ini, selain aktif bekerja, ia juga aktif membantu perjuangan para warga, salah satunya dengan menjadi reporter muda kampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *