Kesenian: Praktik Kolektif Warga (Kampung Kota) Mengimajinasikan Kesehariannya Yang Lain

Categories Featured, Kabar

“Man was first a hunter, and an artist : his earliest vestiges tell us that alone. But he must always have dreamed, and recognized and guessed and supposed, all skills of the imagination.” Guy Davenport, The Geography of the Imagination, 1981

Program Kelas Kurator Muda yang diselenggarakan pada periode 10-17 Februari 2018 dimaksudkan oleh penggagasnya Institut RURU serta Dewan Kesenian Jakarta sebagai upaya mentransfer pengetahuan tentang praktik kuratorial -dalam kerja kesenian yang partisipatif dan di luar format galeri- kepada perwakilan warga dari 6 (enam) kampung kota di Jakarta. Inisiatif ini menemukan tantangan paling mendasarnya pertama-pertama pada persepsi tentang apa dan bagaimana kesenian yang ada di warga masyarakat – dalam hal ini khususnya perwakilan warga tersebut di atas.
Respon umum -seperti tertangkap pada pertemuan pertama di ruang rapat pleno Dewan Kesenian Jakarta- dari hampir sebagian besar warga kampung yang hadir: kesenian dilihat sebagai suatu kegiatan produksi kreatif yang hasilkan produk-produk dengan estetika tertentu dan (karenanya) memiliki nilai ekonomi, asalkan produk ini dapat didistribusi di pasar yang tepat.
“Di kampung kami ada banyak kulit kerang –yang selama ini tidak terpakai- yang bisa dibuat jadi barang seni,” begitu kira-kira Ratono warga kampung Kerang Ijo Muara Angke Jakarta Utara promosikan potensi material yang ada di kampungnya. Atau juga bagaimana Rasdullah sampaikan potensi tetangganya di permukiman kolong tol Penjaringan Jakarta Utara dengan keterampilan seni lukis dan kaligrafi yang potensial untuk dipasarkan.
Berdasarkan apa yang disampaikan warga di atas, kesenian dianggap sebagai aktivitas produksi karya yang punya nilai estetik dan karenanya memiliki nilai ekonomi. Pandangan yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut apakah nilai ekonomi adalah relevansi paling dekat antara kesenian dengan keseharian warga kampung kota? Jika demikian apa yang membedakan praktik kesenian warga kampung kota dengan kesenian ala galeri?

Diskusi warga bersama tim kurator. ©Tubagus Rahmat

Imajinasi
Yuval Noah Harari lewat bukunya “Sapiens, A Brief History of Humankind” (2011), sampaikan argumennya tentang bagaimana spesies Sapiens adalah satu-satunya anggota kerajaan binatang yang mampu menjalin kerjasama kolektif dalam jumlah sangat besar dan kompleks. Kemampuan yang menurutnya diperoleh karena Sapiens memiliki kapasitas kognisi yang unik untuk membangun imajinasi serta fiksi. Imajinasi serta fiksi –yang termanifestasi dalam berbagai sistem kolektif- inilah yang hadirkan ragam ‘realitas’ untuk melengkapi realitas alami terberi yang ada- yang diperlukan di antaranya guna membangun ikatan bersama, menjawab tantangan sekaligus merespon ‘dorongan’ untuk terus bergerak maju. Lewat perspektif Harari, kita diajak untuk memahami bahwa imajinasi bagi komunitas umat manusia bukan saja merupakan ketrampilan khusus (yang bedakan manusia dengan spesies lain) namun juga perangkat penting penyokong serta penentu keberlanjutan dan masa depan kolektifnya.
Pada kesempatan lain, Ng Chee Meng (menteri pendidikan Singapura, 2018) menyampaikan bahwa salah satu tantangan serius yang dihadapi masyarakat Singapura hari ini dan di masa mendatang adalah bagaimana mereka mampu kembangkan kemampuan berimajinasinya. Keluasan imajinasi yang oleh Adrian Kuah (periset dari Lee KuanYew School of Public Policy, 2018) punya tugas strategis mengantar pada pertanyaan-pertanyaan baru berikutnya lebih dari sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan terberi yang sudah ada.
Perspektif soal imajinasi ini kemudian menjadi bagian pokok dari percakapan dengan perwakilan warga kampung di hari-hari selanjutnya.
“Yang pertama, reklamasi mesti stop. Yang kedua, kita ingin ada (sistem) RT/RW di sini,” jawaban Ratono, Dodo, serta Dede warga kampung Kerang Ijo, secara terpisah soal bayangan masing-masing tentang kampungnya di masa depan. Saat kemudian masing-masing ditanya lebih lanjut apa yang kemudian mereka bayangkan ketika dua keadaan tersebut tercapai, ketiganya (juga secara terpisah) menjawab kompak, “yang penting dua (hal) itu dulu mas!” seolah tidak/belum ada yang perlu dibayangkan selain dua hal tersebut. Kekompakkan ‘imajinasi’ ini dapat dipahami mengingat ketiganya adalah warga yang sedang aktif memperjuangkan keberlanjutan bermukim yang saat ini terancam proyek pembangunan kotanya. ‘Imajinasi’ terkonsolidasi menjadi agenda politik warga (yang sedang berhadap-hadapan dengan kekuasaan negara) di mana suara yang satu, bulat, solid, dan utuh dipahami sebagai syarat serta kekuatan strategisnya.
Hendra, warga yang pernah aktif sebagai penggerak anak muda juga remaja di kampung Rawa Barat, Kebon Jeruk Jakarta Barat, sebutkan program normalisasi sungai dan penggusuran yang ancam keberadaan kampungnya tidak menarik perhatian anak-anak muda di sana. “Sekarang ini yang lebih mudah menarik massa anak muda untuk berkumpul dan bergerak adalah isu-isu terkait agama, seperti soal Palestina misalnya,” begitu Hendra jawab pertanyaan soal minat anak muda di kampungnya untuk berkumpul dan berkegiatan. Agama (dan politiknya) pada sekilas cerita Hendra dapat diasumsikan mampu mendorong hasrat kolektif. Yang belum sempat tergali dalam percakapan dengan Hendra adalah imajinasi kolektif seperti apa yang kemudian diproduksi juga dikonsumsi hingga isu-isu yang tidak dihadapi secara langsung dan jauh (seperti soal Palestina) menjadi lebih prioritas, relevan, juga mendesak ketimbang isu-isu yang dekat dan berdampak langsung pada keberlanjutan komunitasnya (seperti isu penggusuran kampung).

Diskusi warga bersama tim kurator ©Susiadi Wibowo

Bagaimana Jika
Di kampung Kali Apuran, Cengkareng, Jakarta Barat, bersama kumpulan kecil warga, kami mencoba melakukan eksperimen membayang-bayangkan. Enam orang warga Kali Apuran yang berkumpul di dua malam terakhir program, masing-masing diminta menyumbangkan ide aktivitas yang bisa dikerjakan di kampungnya dengan melengkapi kalimat “Bagaimana jika …”. Eksperimen ini awalnya berjalan lambat karena seolah kegiatan membayang-bayangkan adalah hal yang tak umum. Ide seperti tersumbat, hingga Teguh, warga yang kelihatan paling senior dan juga tuan rumah pertemuan, memberanikan diri melontarkan ide, “Bagaimana jika kita buat bank sampah?” Pecah telur ini membantu ide mengalir lebih lancar.
“Bagaimana jika di kampung kita diadain taman main bocah?” lontar Jodie seorang bapak muda beranak satu. Ide-ide berikutnya muncul dari Harun, Omay, Ridwan, serta Andi yang ikut berkumpul malam itu. Alhasil, ada delapan ide awal merespon pertanyaan “Bagaimana jika …” di atas. Delapan ide yang muncul hampir seluruhnya berbicara soal pengadaan infrastruktur atau perbaikan fisik kampung, seperti: perbaikan serta pembuatan jembatan tambahan untuk melintasi sungai ke kampung seberang, penyediaan penerangan di sepanjang pinggiran sungai, perbaikan fasad rumah, hingga pembuatan balai pertemuan warga.
Hasil dari sesi pertama eksperimen membayang-bayangkan ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan keluaran musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) yang libatkan perwakilan warga di banyak tempat, di mana mayoritasnya adalah usulan perbaikan atau pengadaan infrastruktur (M. Halimah & A. Karyana, 2017).
Untuk mendapatkan keluaran yang lain, eksperimen membayang-bayangkan “Bagaimana jika …” dilanjutkan dengan tambahan panduan soal ide kegiatan yang tidak harus selalu hasilkan hal-hal yang fisik dan permanen, bisa juga yang temporer ataupun eksperimental.
Tambahan lainnya: mampu mengajak warga alami peristiwa yang sama sekali berbeda dengan keseharian yang ada: sejenak keluar dari satu realitas untuk mencicipi realitas lainnya.
Harun meresponnya dengan ide soal bagaimana jika kampung Kali Apuran menjadi kampung wisata pinggir sungai. Pertanyaan soal mengapa ‘kampung wisata’ menjadi respon balik dari ide ini. “Supaya ada hiburan yang dekat buat warga di sini, sekalian jadi alasan untuk berbenah kampung,” jawab balik Harun, salah seorang warga yang sedang terlibat aktif dalam kegiatan penyusunan Community Action Plan (CAP) di kampung ini.
Dari sini, ide-ide berikutnya mengalir dan juga dibentuk.

Kemeriahan acara Piknik Kampung Merdeka ©Tubagus Rachmat

Piknik ke Kampung Sendiri
Di akhir sesi eksperimen membayang-bayangkan, warga menelurkan gagasan yang akan dikembangkan menjadi program di kampungnya: ‘Piknik ke Kampung Sendiri’. Gagasan yang mengeksplorasi ide awal Harun soal kampung wisata ini, kembangkan premis: “Kegiatan piknik dapat diartikan sebagai kegiatan pergi ke suatu tempat untuk mencari atau nikmati hiburan. Menjadikan kampung sendiri sebagai lokus tujuan berarti mengandaikan ada hal-hal (tempat, aktor, peristiwa) di kampung yang punya kualitas di luar keseharian (yang rutin) yang mampu hadirkan hiburan bagi warganya.”
Beberapa ide kegiatan yang muncul dan kemudian dirangkai menjadi konten dari program ini adalah:
1. Car Free Day di Gang Kampung, dengan mengosongkan sebagian gang dari lalu lintas kendaraan bermotor, ruang jalan dapat digunakan untuk aktivitas kegiatan lain,
2. Anak-anak menggambar dan mewarnai dengan tema soal visi kampung versi mereka,
3. Madangan dan Bertukar Makanan, kegiatan ibu-ibu berkumpul dan makan bersama setelah pekerjaan domestik masing-masing selesai, adalah bagian dari keseharian warga di kampung ini. Memperluas praktik ini ke warga lain yang bukan hanya ibu-ibu, akan menjadi aktivitas yang dianggap menghibur dan menyenangkan,
4. Reuni Antar Warga, kegiatan reuni biasanya dilakukan antar individu dalam suatu kelompok yang telah lama ter/berpisah. Pada konteks warga kampung Kali Apuran, kegiatan ini dianggap relevan karena meskipun bertetangga dekat pertemuan dan interaksi yang intens hampir jarang terjadi. Reuni antar warga ini dapat dimanfaatkan sebagai kilas balik pertemuan dan kesempatan memperbarui kembali relasi – dengan cara yang santai juga menghibur.
‘Piknik ke Kampung Sendiri’ menjadi ide yang menarik untuk dicoba dan dieksplorasi lebih lanjut, bukan hanya karena imajinatif namun juga karena ia memiliki prospek untuk hadirkan realitas yang lain -yang bisa dikerjakan dan dialami secara kolektif- dengan cara yang tidak (harus) rumit atau terbebani oleh syarat adanya perubahan yang masif lagi sistemik. Selain itu, meskipun realitas alternatif ini bersifat temporer ia berguna untuk mengungkapkan potensi-potensi juga tentunya persoalan-persoalan yang ada di kampungnya. Karena sifat temporer tersebut, ia berbeda dengan gambaran perubahan yang seringkali bersifat mendesak, mengikat serta memaksa. Kesementaraan ini menjadikan realitas alternatif luwes dan terbuka untuk dimaknai dan direspon dengan beragam cara.
Saat eksperimen membayang-bayangkan sampai di gagasan (serupa) di atas, warga partisipan diajak untuk melihat bentuk lain dari kesenian. Jika imajinasi dianggap sebagai perangkat penting untuk bangun keberlanjutan komunitas manusia, maka kesenian, berpijak pada pernyataan Guy Davenport dalam bukunya “The Geography of the Imagination” (1981) dapat dianggap sebagai ‘puncak’ keterampilan dan keahlian dalam berimajinasi. Karenanya, mendorong tumbuh suburnya praktik-praktik kesenian (kolektif) di komunitas warga kota mestinya memberi kesempatan tumbuh kembangnya keterampilan dan keahlian berimajinasi, sambil berharap realitas-realitas alternatif yang diproduksi di sepanjang prosesnya, mampu memperkaya pilihan-pilihan realitas yang dapat kita hidupi: realitas yang jauh lebih relevan (dalam banyak hal) dan karenanya lebih lestari.
Menjadi menarik untuk melihat lebih lanjut bagaimana warga Kali Apuran juga warga di 5 (lima) kampung kota lainnya mengembangkan dan mengeksekusi gagasannya, serta bagaimana praktik ini kemudian mengantar warga dan juga kita, pada hal-hal yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.

Anak muda Kali Apuran memegang bendera merah-putih di saat acara Piknik Kampung Merdeka ©Tubagus Rachmat
Ign Susiadi Wibowo
Setelah lulus dari jurusan arsitektur UI dan bekerja di beberapa biro selama beberapa tahun, Adi Wibowo mendirikan Adhi Wiswakarma Desantara (AWD) di tahun 2009. Selama berpraktik, ia menemukan banyak kesenjangan antara praktik formal arsitektur dengan isu kehidupan sehari-hari yang mendorongnya mendirikan LabTanya di tahun 2014. Hingga saat ini, terdapat beberapa program yang telah diinisiasi seperti “Menjadi Ekologis” bersama RUJAK dan “Kota Tanpa Sampah”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *