Menata Untuk Bertahan

Categories Kabar

“Tidak ada bayaran untuk dinding yang dimural mbak, aman dari ancaman gusuran saja sudah cukup bagi saya,” kata Putimah (54), seorang nenek bercicit lima yang sudah tinggal sekitar 30 tahun di Kampung Jodipan, Malang, Jawa timur.

Jodipan adalah salah satu kelurahan di Malang yang namanya jadi bagian dari Kampung Warna Warni kota itu. Sebagian besar warga di sini bekerja membuat kerajinan tangan untuk dijual ke para turis. Ada juga beberapa rumah yang digambari mural, seperti rumah bu Putimah. Di seberang Jodipan, ada bagian lain dari Kampung Warna Warni bernama Tridi. Berbeda dengan Jodipan, sebagian besar rumah di sini punya gambar mural tiga dimensi.

Jodipan dan Tridi berada di daerah aliran sungai Brantas. Dulunya kedua kampung ini kumuh. Banyak orang buang sampah ke sungai, sementara warga membuang limbah rumah tangga ke sungai karena tidak punya sanitasi.

©Siti Maymunah

Pada tahun 2015, sempat tersiar kabar kalau Jodipan dan Tridi akan digusur oleh pemerintah daerah karena rumah warga dibangun di pinggir sungai di atas tanah milik negara. Namun pada Juni 2016, warga berpartisipasi mengecat rumah mereka dan berkolaborasi dengan komunitas mural dan tentara. Warga juga meminta sponsor cat di kota Malang untuk menyediakan bahan dasar lebih dari 17 warna.

Warga tidak meminta bayaran atas mural yang di gambar di dinding rumah mereka. Mereka sadar bahwa untuk mempertahankan rumah dari penggusuran, kampung mereka harus terlihat indah sekaligus menepis stigma negatif sebagai kawasan kumuh. Mereka membayar seniman mural sebanyak Rp. 4.000.000,- untuk 2 kampung. Selain mural itu, para pemuda dan pemudi kedua kampung ini juga mulai berlatih membuat kerajinan tangan seperti payung plastik gantung, hiasan anyaman tampah, topeng, batang pohon kering yang digantungi bola-bola kecil, bahkan bingkai kayu mereka tempeli kancing warna-warni.

©Siti Maymunah

Setelah rumah warna-warni mereka jadi pusat perhatian kota, warga mulai memberlakukan tiket masuk bagi pengunjung sebesar Rp. 3.000,-. Pada hari biasa, jumlah pengunjung hanya sekitar 50-100 orang. Namun saat libur tanggal merah dan akhir pekan, pengunjung bisa mencapai 100-300 orang. Warga memberikan souvenir kerajinan tangan berupa gantungan yang terbuat dari kain kepada setiap pengunjung yang membayar tiket.

Putimah dulunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi sejak Jodipan resmi jadi kampung wisata tahun 2016, dia mulai membuka usaha kecil dengan menjual makanan ringan dan minuman di depan rumah. Sebelum kampungnya terkenal, pendapatan Putimah sehari jarang mencapai Rp. 50.000,-. Namun sekarang, pada hari biasa Putimah bisa mengantongi uang lebih. Sementara itu saat hari libur tanggal merah dan akhir pekan, dia bisa memperoleh lebih dari Rp. 300.000,-.

Tidak ada jemuran pakaian, kompor ataupun sampah berserakan di depan rumah-rumah warga Jodipan dan Tridi. Mereka mempertahankan haknya, mereka menata kampung untuk bertahan di pemukiman yang sudah mereka tinggali selama berpuluh-puluh tahun. Dan kini Kampung Warna Warni sudah dikenal turis manca negara karena sukses melakukan penataan.

Siti Maymunah
Lahir dan besar di Kampung Tongkol. Saat ini, selain aktif bekerja, ia juga aktif membantu perjuangan para warga, salah satunya dengan menjadi reporter muda kampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *