Jaringan Rakyat Miskin Kota Meminta Anies tetap di Jakarta

Categories Kabar

“Bara bara bere bere Pak Anies di Jakarte Aje. Bara bara bere bere pak Anies jangan kemane mane.”

Suara pria paruh baya  berompi hijau itu menggelegar. Pantun yang ia lagukan direspon dengan riuh tawa oleh ratusan manusia. Di atas mobil komando pria itu kemudian berorasi menghadap Balai Kota Jakarta seolah berharap suaranya akan didengar oleh Gubernur Jakarta, Anies Baswedan.

©Rohman Muslim

Rasdullah( 54 ), nama pria tersebut, adalah ketua Serikat Becak Jakarta (Sebaja). Pagi itu (23/07/18), sekitar pukul 09:00 WIB, ia bersama ratusan warga dari 16 kampung, PKM (Pedagang Kecil Mandiri) dan SEBAJA (Serikat Becak Jakarta) yang terhimpun dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) melakukan aksi di depan Balaikota DKI Jakarta. Mereka resah dengan kabar yang belakangan berseliweran di media massa soal rencana pencalonan Anies Baswedan sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Keresahan itu yang membuat mereka ingin menanyakan kebenaran itu secara langsung dan meminta Anies menunda pencalonan itu untuk bertahan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Topaz Juanda ( 32 ), salah satu perwakilan dari kampung akaurim menuturkan bahwa warga memang sangat menaruh perhatian terhadap isu tersebut. Menurutnya, kebijakan Anies telah memberikan solusi terhadap kampung-kampung Jakarta. Ia mencontohkan pembangunan shelter di Kampung Akuarium kampungnya, setelah kampung itu dibekukan di era gubernur sebelumnya. “Kebijakan tersebut sudah dirasakan kepada rakyat Jakarta”.

Rahayu Ningsih ( 30 ), warga Kampung Kunir. Ia menyebut program Communitu Action Plan (CAP) kini telah dilaksanakan. “Tinggal selangkah lagi kampung kami akan terwujud,” ujarnya sembari mengingat penggusuran yang meratakan kampungnya beberapa waktu silam. Sebagaimana Topaz, ia tidak rela jika kemudian Anies pergi meninggalkan program CAP tersebut.

Rasdullah dalam orasinya juga menuturkan hal serupa. Menurutnya “anak (tukang) becak sekarang bisa sekolah, dulu tidak bisa ngontrak sekarang bisa ngontrak” sejak mereka diperbolehkan beroperasi lagi di Jakarta. Karena itu ia mewanti-wanti Anies untuk menyelesaikan tugasnya dulu selama lima tahun ke depan.

©Rohman Muslim

Tidak hanya tukang becak dan warga kampung gusuran yang hadir dalam aksi tersebut.  Komunitas PKM (Pedagang Kecil Mandiri) juga ikut bergabung dan memberikan aspirasinya. Dalam orasinya, perwakilan PKM menyatakan bahwa mereka menginginkan tempat usaha mereka ditata kembali oleh Pemda DKI Jakarta, sebagaimana telah dilakukan pada Komunitas Pedagang Ancol (Kopeka), PKL Kali Adem, PKL Volvo, dan Sunda Kelapa. Mereka ingin berdagangan atau berjualan tanpa dikejar-kejar lagi oleh Satuan Polisi Pamong Praja.Setelah warga melakukan aksi selama 3 jam, Gubernur DKI Jakarta akhirnya keluar dari dalam Balaikota untuk menemui warga. Ia memberikan jawaban mengenai isu-isu yang memberitakan pencalonan dirinya sebagai presiden maupun wakil presiden. Gubernur menerangkan kepada warga bahwa dia masih (akan) di Jakarta dan bekerja untuk Jakarta. Gubernur juga menegaskan bahwa tugas-tugas yang belum selesai  harus diselesaikan seperti janji atas penataan Kampung, dan penataan pedagang kaki lima dan tukang becak.

Setelah mendapatkan jawaban dari Gubernur DKI Jakarta, warga akhirnya membubarkan diri pada pukul 12:30 WIB. Aksi di depan balaikota itu ditutup dengan acara foto bersama antara gubernur dengan warga 16 Kampung, PKM, dan SEBAJA.

Rohman Muslim
Lahir dan besar di Kampung Akuarium. Meski telah tergusur, ia sangat berharap kampung mereka dapat berdiri kembali dan saat ini bertanggung jawab dengan pengelolaan air di kampung. Saat ini, ia juga aktif membantu perjuangan para warga, salah satunya dengan menjadi reporter muda kampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *