Peringatan Hari Habitat dan Peluncuran Buku Kampung Kota Merekam

Categories Featured, Kabar

Oleh: Rohadi

Peringatan Hari Habitat Internasional tahun ini di selenggarakan oleh Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Urban Poor Consortium (UPC) di atas puing penggusuran Kampung Akuarium Jakarta Utara, bekerjasama dengan ASF Indonesia, Rujak Center for Urban Studies, Tim Kampung Kota Merekam, LabTanya, Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, dan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Indonesia dengan Tema Penataan Kampung : Pemenuhan Hak Atas Perumahan Layak dan Terjangkau.

Acara dimulai dengan membaca doa bersama yang dipimpin oleh Amir Hamzah, perwakilan warga Kampung Rawa Jakarta Barat. Mengutip kalimat beliau, “Kami bukan orang miskin tapi dimiskinkan, kami bukan marjinal tapi dimarjinalkan, kami menjadi tamu di rumah kami sendiri, kami menjadi penggarap di tanah kami sendiri.”

Acara dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Jerami (Jejaring Rakyat Miskin Indonesia) yang di bawakan oleh pengurus JRMK yang menjadi lagu wajib setiap kali JRMK melakukan kegiatan, menjaga semangat dan merawat persaudaraan antar kampung, pedagang kaki lima, dan Komunitas Becak.

Acara pentas warga kampung pada Hari Habitat 7 Oktober 2017 di Kampung Akuarium. Foto: Tubagus Rachmat/JRMK

Eni Rochayati koordinator JRMK dalam sambutannya menyampaikan bagaimana acara ini bisa sukses terselenggara hasil dana saweran bersama setiap kampung, PKL, dan Komunitas Becak, menjadi bukti kekompakan rakyat miskin kota dalam memperjuangkan tujuan bersama berupa pemenuhan hak dasar (Hak Atas Tempat Tinggal, Hak Atas Hidup yang Layak, Hak Atas Pekerjaan, Hak atas Kesehatan dan Hak atas Rasa Aman).

Pak Datum mewakili PKL dari KOPEKA (Komunitas Pedagang Kecil Ancol) menyampaikan harapannya agar kelompok pedagang bisa mendapat izin usaha sehingga mereka bisa mencari nafkah dengan rasa aman di tempat mereka berjualan saat ini. Berikutnya Pak Rasdullah mewakili Komunitas Becak menceritakan ketidakadilan yang mereka alami selama ini karena adanya Perda No. 8/2007 tentang Ketertiban Umum yang melarang becak ada di jalan sehingga mereka harus sering berurusan dengan Satpol PP. Menurutnya pekerjaan sebagai tukang becak bukan pekerjaan haram karena setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan dijamin oleh undang-undang.

Rangkaian acara berlanjut dengan penampilan paduan suara anak-anak Kampung Akuarium, pentas akustik dari anak muda Kampung Kunir, paduan suara anak-anak Sanggar Ciliwung Merdeka, tarian dari Sumatra Barat yang di bawakan oleh anak-anak Kampung Tongkol, solo guitar anak muda Kampung Marlina dan semarak instrumen perkusi barang bekas dari anak muda Kampung Muka mengiringi kedatangan Sandiaga Uno (Wakil Gubernur Terpilih DKI Jakarta) yang langsung berkeliling melihat pameran hasil kerja JRMK dengan jaringan terkait isu perkotaan.

Puncak acara adalah diskusi bersama dengan narasumber, Sandiaga Uno (Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta), Sandyawan Sumardi (Ciliwung Merdeka), Sukirno (warga kampung), Evi Mariani (jurnalis), Matthew Lenggu (LBH Jakarta), dan Anggi (Mahasiswa Arsitektur Jakarta), dengan Gugun Muhamad sebagai moderator.

Diskusi membahas minimnya peran pemerintah dalam memfasilitasi kampung-kampung mendapatkan hak atas tanah yang menyebabkan banyak terjadinya penggusuran di Jakarta,

Sandiaga Uno berjanji di masa kepemimpinannya bersama Anies Baswedan akan bekerja sama secara partisipatif dan kolaboratif dengan masyarakat, akademisi, dan LSM dalam menyusun kebijakan peninjauan kembali RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan perubahan zonasi sehingga kampung bisa mendapatkan hak atas tanah dan melakukan penataan. Penyerahan buku Profil Kampung, PKL dan Kampung Kota Merekam kepada Sandiaga Uno menjadi pesan bahwa masyarakat yang hadir pada malam itu siap mengawal dan menagih janji dimasa kepemimpinan Anies-Sandi demi pembangunan kota yang manusiawi.

Acara yang tidak kalah penting berupa penyerahan buku Kampung Kota Merekam kepada perwakilan kampung, PKL dan Komunitas Becak, diberikan langsung oleh tim yang terdiri dari Evi, Lintang, Yusni, Iwan, Azhar, Rizki dan Azka.

Acara penyerahan buku Kampung Kota Merekam edisi I pada perwakilan warga kampung dan komunitas. Foto: JRMK

Mewakili tim, Azka menyampaikan pengalamannya selama 3 bulan proses pengumpulan informasi dan berinteraksi langsung dengan warga kampung kota, bahwa selama ini warga bergotong-royong membangun kampung dengan biaya mereka sendiri tanpa peran serta pemerintah, ini menunjukkan warga yang selama ini tinggal di kampung yang dianggap kumuh, penyebab banjir serta sumber masalah perkotaan justru memiliki peran dalam pembangunan kota, sebaliknya pemerintah selama ini hanya berkontribusi memberikan pajak atas lahan yg ditempati warga selama ini.

Penutupan acara di akhiri dengan pertunjukan musik dari Sanggar Ciliwung Merdeka dengan lagu Akar Rumput yang membuat pengunjung ikut bernyanyi bersama, menambah keakraban setelah gerimis turut hadir pada malam itu.

Rohadi .
Warga Rusun Pesakih, korban gusuran normalisasi Kali Apuran. Saat ini selain bekerja, aktif berkegiatan di komunitas warga Kali Apuran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *