Menyalakan Harapan di Kampung Akuarium

Categories Rekam

Senyum di wajah Rakha dan Dimas merekah saat kedua remaja itu menceritakan karya mereka yang bernama Rumah Langit. Sebuah instalasi berwujud sepetak ruang terbuka beratap ijuk yang ditopang kaki bambu tinggi bercat merah putih. Saat ditanya kenapa mereka membuat rumah setinggi itu, spontan mereka menjawab, “Supaya bisa ngawasin satpol PP dari jauh.” Kepolosan khas remaja itu kontan memancing tawa banyak orang yang hadir.

Begitulah secuplik kegembiraan warga korban penggusuran Kampung Akuarium di sebuah sore, pertengahan Agustus lalu. Banyak warga berkumpul memadati tanah lapang di bekas reruntuhan rumah mereka. Bukan untuk aksi unjuk rasa penggusuran yang menghapus kampung mereka tahun lalu, tapi untuk merayakan hari Kemerdekaan negeri ke-72 dengan cara unik, yaitu lewat lomba Rumah Ideal. Kegiatan menarik ini difasilitasi perupa Jepang Jun Kitazawa serta Rujak Center for Urban Studies—lembaga riset perkotaan berbasis di Jakarta.

Warga Kampung Akuarium terlihat antusias, khususnya anak-anak. Mereka berteriak dan bercanda sambil bergantian keluar masuk “rumah impian” yang ditampilkan tujuh tim warga kampung. Jun bersama warga mengusulkan tema rumah impian untuk mempertahankan semangat warga dalam memperjuangkan hak mereka. “Saya ingin warga, khususnya anak-anak, bisa bermain dan berbagi kegembiraan lewat proyek Rumah Ideal,” ujarnya.

Meski digusur, keseharian tetap berjalan seperti biasa. Di belakang terlihat tanah lapang bekas gusuran, yang menjadi pusat kegiatan kampung saat ini. ©Yusni Aziz

Bang Ali dan Sejarah Awal Kampung Akuarium
Kampung Akuarium diratakan dengan tanah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 11 April 2016 karena alasan yang sangat klise. Warga dituduh bermukim di Kampung Akuarium secara ilegal dan permukiman mereka dikatakan memberi kesan kumuh pada kawasan wisata Kota Tua Jakarta.

Namun benarkah Kampung Akuarium adalah pemukiman yang layak dihapus untuk mempercantik Jakarta?

Menarik menghubungkan klaim Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu dengan sejarah berdirinya kampung ini. Ali Sadikin yang oleh banyak pemerhati sejarah sering disebut sebagai sosok yang paling berperan membentuk wajah Jakarta pasca kemerdekaan, memiliki ikatan yang intim dengan Kampung Akuarium. Awal mula berdirinya kampung ini bisa ditelusuri dari visi Bang Ali, panggilan populer Ali Sadikin, sebagai gubernur Jakarta

Sebagai gubernur, Bang Ali  berbagi visi dengan Presiden Sukarno yang memimpikan citra Jakarta sebagai ibukota negara maritim. Ia mengerahkan segenap daya dan imajinasinya untuk mengembangkan Teluk Jakarta—salah satunya lewat pembangunan Samudra Jaya Ancol sebagai badan pembaharu kawasan pantai Jakarta.  Untuk mengenang kejayaan masa lalu Jakarta sebagai kota bandar, ia juga merevitalisasi kawasan Kota Tua, seperti kawasan Sunda Kelapa.

Bang Ali tak mau terjebak oleh sikap nasionalis sempit dan menghancurkan bangunan kuno warisan penjajah Belanda. Ia mengawinkan apa yang sudah terjadi di masa lalu, dengan mimpi di masa kini.

Banyak bangunan kolonial dialihfungsikan menjadi museum. Seperti Stadhuis yang disulap menjadi Museum Fatahillah, Raad van Justitite yang dipugar untuk menjadi Museum Seni Rupa, dan bekas gudang rempah VOC yang dipoles menjadi Museum Bahari di akhir masa jabatannya.  Sentuhan ajaibnya pulalah yang kemudian mengubah wajah kawasan Pasar Ikan dan kawasan lain yang menjadi cikal bakal Kampung Akuarium.

Dengan kerendahan hati, Bang Ali bersedia meneruskan fungsi kelembagaan strategis yang penting di masa kolonial Belanda. Ia menghidupkan kembali cita-cita Dr. Sunier, direktur pertama Laboratorium voor Onderzoek der Zee (lembaga penelitian laut pemerintah Hindia Belanda) yang pernah berdiri tahun 1923 di area sekitar Pasar Ikan, dengan  mengembalikan kawasan tersebut menjadi Laboratorium Laut yang dikelola LIPI.  Ia meminta kawasan itu terbuka untuk umum, khususnya pelajar. Untuk peneliti asing maupun ahli lokal, mereka bisa tinggal di kamar yang menghadap Pelabuhan Sunda Kelapa. Di dalam kawasan LIPI itu juga ikut dibangun perpustakaan kelautan untuk memperluas wawasan pengunjung dan para ahli.

Laboratorium Laut LIPI ini adalah kebanggaan Bang Ali. Ini  terlihat dalam memoar serah-terima jabatannya sebagai Gubernur Jakarta. Dalam buku Gita Jaya, terbit 1977, ia menyebut kawasan itu sebagai salah satu tanda keberhasilan pembangunan eduwisata bagi warga Jakarta.
Dengan reputasi seperti itu, tidak jelas kenapa dua tahun kemudian,  Pemerintah DKI Jakarta memutuskan memindahkan akuarium LIPI ke kawasan Sunter Agung. Pemindahan itu membuat sebagian koleksi yang ada di laboratorium laut dipindahkan ke Ancol, dan asrama karyawan milik laboratorium juga menjadi kosong. Tidak ada penetapan fungsi baru bagi kawasan ini, dan setelah sempat ditinggalkan kosong selama beberapa tahun, perlahan-lahan tanah tersebut lantas bertransformasi menjadi Kampung Akuarium.

Anak-anak dari Kampung Akuarium berlatih menyanyi lagu “Rumah Kita” untuk menyambut kedatangan perwakilan UN Rapporteur, Leilani Farha, ke kampung mereka bulan September 2017. ©Yusni Aziz

 

Kehilangan yang Menyakitkan

Empat   dekade  berlalu.  Sebanyak  385  keluarga   telah  mendiami Kampung   Akuarium.  Mereka  diakui  secara legal  sebagai  warga Jakarta, karena telah memiliki KTP keluaran DKI Jakarta, dan membayar pajak, air PAM, listrik secara resmi.

Meskipun demikian, eksistensi kampung ini tidak pernah aman dan senantiasa terancam. Ancaman pertama datang pada tahun 1996. Pemerintah provinsi DKI Jakarta, di bawah pimpinan Soerjadi Soedirdja, mengirimkan ultimatum penggusuran pertama. Saat itu warga selamat. Mereka memiliki waktu yang cukup luang untuk bernegosiasi dengan pihak pemerintah untuk menggagalkan rencana penggusuran.

Dua puluh tahun kemudian, ancaman itu datang kembali dengan turunnya SP 1 dari pemprov DKI Jakarta di tanggal 30 Maret 2016.

Topas (31) bercerita bahwa pengumuman itu membuat warga berbondong-bondong mendatangi Kantor Kecamatan Penjaringan. Mereka ingin meminta penjelasan Abdul Khalit, Camat Penjaringan. Camat memberikan jaminan bahwa yang akan digusur hanya permukiman yang menjorok ke atas air, atau dalam radius 8 meter dari bibir tanggul. Mereka yang tidak tinggal di area yang dimaksud bisa bernapas lega.

Perkataan camat Penjaringan terbukti palsu. Seminggu kemudian SP 2 diberikan pada semua warga. Dalam tiga hari ke depan Pemprov DKI Jakarta meminta warga harus sudah mengosongkan rumahnya. Warga sempat memohon penundaan penggusuran hingga selesai Lebaran, atau ujian nasional, tapi tidak digubris. SP 3 akhirnya turun, dan hanya memberikan satu hari untuk pengosongan. Semua berjalan terlalu cepat untuk mengantisipasi perubahan besar yang akan terjadi.

Senin, 11 April 2016, sekitar 6.000 personil gabungan Satpol PP, polisi, dan TNI akhirnya datang mengepung. Dalam siang yang terik itu, ibu-ibu melakukan protes. Mereka ramai salat hajat di tengah jalan, memohon perlindungan Yang Maha Kuasa dengan linangan air mata. Beberapa bergabung dengan para pria untuk membentuk barikade manusia yang menghadang aparat.

Aksi saling dorong sempat terjadi. Tapi dalam pertempuran yang tak seimbang, para pejuang dari Kampung Akuarium akhirnya menyaksikan rumahnya rata dengan tanah.
Bara Memori untuk Menata Hidup
Setelah penggusuran, sebanyak 28 keluarga nelayan memilih untuk hidup di  atas perahunya ketimbang pindah ke rusun. Fahruji (31) mengaku jarak dari rusun ke laut yang terlalu jauh menjadi pemicu gerakan protes mereka. Kepindahan itu  dapat  membunuh  sumber pendapatan mereka secara perlahan.

Selang beberapa minggu, sebagian dari mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah susun sewa di Kapuk Muara. “Kasihan kawan-kawan kemarin. Pas ada hujan angin, tendanya sobek. Kalau seperti saya dan bapak-bapak yang lain mungkin terbiasa. Tapi anak-anak umur 1-5 tahun kan miris melihat mereka kedinginan.”

Dari 28 keluarga yang ada, hanya 10 keluarga yang sudah pindah ke rusun. Sisanya baru dijanjikan, dan hingga kini belum ada kejelasan. “Tapi semenjak masuknya sepuluh itu, media seolah-olah sudah beritakan manusia perahu nyerah.

Padahal pindah bukan berarti menyerah. Meski telah diberi rusun, Fahruji juga membangun bedeng di atas puing rumah lamanya. Sekarang ia dan keluarganya juga sering tinggal di Kampung Akuarium, agar bisa melaut dan ikut membantu perjuangan warga kampung.

Fahruji duduk di atas sampan para nelayan yang berlabuh di Kampung Akuarium ©Yusni Aziz

Semangat warga memang masih membara. Sebagian bahkan bersikeras untuk tidak pindah ke rusun, atau keluar dari kampung. Mereka memilih tinggal, makan, dan tidur dalam bedeng dan tenda seadanya, melanjutkan keseharian di atas puing bekas rumah mereka.

Seperti keputusan yang diambil Dharma Diani atau Yani, 41, ibu rumah tangga yang rumah dan PAUD asuhannya tergusur bersamaan tahun lalu. Ia memilih bertahan karena ingin memperjuangkan hak hidup dan hak tinggalnya. “Kampung kita sebetulnya unik dan punya potensi wisata. Saya pribadi punya sejarah di sini, dan sejarah itu lebih mahal dari apapun,” tambahnya.

“Waktu kecil, saat saya sudah bisa melihat dunia, yang saya sering lihat adalah muka-muka turis. Ternyata banyak dari mereka ingin melihat kehidupan kampung kota Jakarta yang engga ada di tempat mereka. Wisatawan itu banyak, dan sering datang berulang kali,” ceritanya.

Yani menegaskan banyak wisatawan mancanegara turut sedih dan marah dengan keputusan penggusuran itu. Ia juga yakin kampungnya sangat bisa menunjang visi pariwisata pemerintah. Oleh karena itu, Yani ingin kampungnya berdiri kembali.

Suyoto (57) juga belum menyerah. Meski ia telah menempati unit di rusun Kapuk Muara, Suyoto masih rutin datang ke Kampung Akuarium, setidaknya seminggu sekali. Baik hanya untuk bertemu kawan lama, atau mencari tahu perkembangan yang terjadi.

Suyoto termasuk warga kampung tertua. Ia juga menjadi saksi sejarah bagaimana area LIPI perlahan bertransformasi menjadi Kampung Akuarium.

Tahun 1976, Suyoto muda ikut pamannya tinggal di komplek karyawan LIPI. Suyoto sendiri bekerja sebagai tenaga pemasok air laut untuk sebuah perusahaan di Ciputat. Selain rutin mengirim air laut dari Teluk Jakarta, ia juga mengelola air akuarium ikan hias milik LIPI.

Saat LIPI dipindahkan ke Sunter Agung tiga tahun kemudian, Suyoto termasuk yang tetap bertahan di komplek tersebut. Ia harus tetap bertugas memasok air laut seperti biasa. Ia dipercaya memegang kunci pagar kawasan itu, supaya bisa keluar masuk untuk mengambil air laut. Setahun setelah pindahnya LIPI, ia mulai menyaksikan orang-orang mengokupasi 28 rumah dinas eks karyawan LIPI yang ditinggalkan penghuninya.

Awalnya dimulai oleh aparat pemerintahan seperti anggota polisi, bantuan polisi, dan pekerja museum, yang otomatis menjadi penghuni awal kampung Akuarium. Setelah itu, tanah kosong milik LIPI juga berangsur-angsur diisi warga yang tergusur dari wilayah sekitar seperti Kampung Bandan dan Luar Batang.

Warga menunaikan shalat di musholla Al-Jihad. Sebelumnya musholla ini bernama Al-Ikhlas, namun setelah digusur bangunan ini didirikan kembali dan diganti namanya untuk menunjukkan semangat perjuangan warga. ©Yusni Aziz

Seiring berjalannya waktu, warga Kampung Akuarium mulai diakui secara legal dan terdaftar secara administratif. Legalitas itulah yang membuat Suyoto yakin bahwa Kampung Akuarium tidak akan digusur, apalagi saat menjabat gubernur Jakarta, Presiden Joko Widodo, atau Jokowi, juga pernah berjanji pada warga setempat.

“Dulu saat kebakaran, Pak Jokowi sempat datang. Dia bilang engga akan digusur. Makanya saya beranikan bangun rumah permanen. Biayanya hampir Rp400 juta,” cerita Suyoto. Sayangnya, baru empat tahun menghuni rumah barunya, kini bangunan rumahnya telah rata dengan tanah tanpa ganti rugi apapun.

Hingga saat ini, ada warga yang masih menuntut ganti rugi, namun sebagian berharap hal yang lebih besar lagi: kembalinya kampung mereka. Yani termasuk dalam kelompok terakhir. Ia mempunyai terlalu banyak memori untuk lepas begitu saja dari kampung yang telah membesarkannya.

“Ibu dan ayah saya ketemu di Pasar Ikan sini. Sejak bujang, ayah saya juga sudah merintis di sini,” kata Yani. “Waktu saya kecil, ayah saya punya kapal trawl yang ditaruh di depan rumah. Rumah kami langsung menghadap laut tanpa tembok penghalang. Jadi kami bisa langsung melihat kapal pinisi  dan perahu-perahu nelayan yang bersandar tepat di depan rumah kami,” ceritanya.

Yani menyaksikan bagaimana para pendatang dari suku Bugis, Jawa, dan Minang singgah di kampungnya, dan akhirnya menetap. Sebagian besar mereka bekerja di pelabuhan Sunda Kelapa, atau juga menjadi nelayan.

Fahruji termasuk yang mewarisi profesi nelayan dari ayahnya. Ia menceritakan sewaktu ia kecil kampung ini selalu ramai dengan nelayan. Namun seiring pemindahan pelelangan ikan ke Muara Angke, jumlahnya makin menurun. “Selain itu, dulu di sini pungutannya terlalu besar untuk nelayan. Setiap mau keluar, wajib lapor. Kalau sekarang keluar masuk ya dibiarin, karena nelayannya sedikit,” ceritanya.

Para nelayan yang tersisa akhirnya juga mencari pemasukan dari para turis. Sebagian tamu yang datang mengunjungi kampung mereka terkadang ingin diantar untuk menjelajahi pulau-pulau di Teluk Jakarta. Beberapa juga puas hanya dengan mengendarai sampan ke Pelabuhan Sunda Kelapa, atau memancing di tengah laut. Bahkan saat kampungnya sudah tergusur pun, Fahruji masih sering mendapat order itu. Umumnya mereka adalah turis yang sudah pernah datang ke Kampung Akuarium, atau datang karena rekomendasi dari pemandu wisata langganan.

Ari Muhrijal (28) dan Rohman (26) pemuda setempat, mengatakan banyak warga Akuarium yang menjadi pemandu wisata. Berbagai usaha pembuatan suvenir ikut muncul. Mereka membuat miniatur perahu pinisi dari kayu sisa kapal, atau berbagai pernik dari kerang dan biota laut yang tak laku di pelelangan untuk dijual ke turis.

Rohman di dalam rumah daruratnya. Saat ini, ia bertanggung jawab untuk pengelolaan air satu kampung setelah suplai dari pemerintah dihentikan setelah penggusuran. ©Yusni Aziz

Wisatawan yang datang beragam. Bahkan anggota tim sepakbola Belanda seperti Robin van Persie dan Wesley Sneijder pernah singgah di Kampung Akuarium.

Mereka cukup bangga atas bagaimana wisatawan asing menghargai kampung mereka. Karena itu meski tergolong muda, Ari dan Rohman sudah merasa punya ikatan yang kuat dengan tempat itu.

“Waktu kecil, kami suka mandi di laut setelah bermain bola. Sebagian dari kami yang berenang sering ke Pelabuhan Sunda Kelapa, untuk bermain dan melompat ke laut dari atap kamar kapal pinisi,” cerita Ari.

“Tapi anak-anak yang sekarang sudah jarang seperti itu. Soalnya ada tanggul tinggi dibangun pemerintah di sekitar kampung,” sahut Rohman sambil menunjuk dinding beton setinggi dua kali orang dewasa di depannya.
Perjuangan Mewujudkan Kampung Akuarium
Berbagai   memori  yang  mereka  simpan  membuat  warga  enggan beranjak dari kampung yang membesarkan mereka. Hingga saat ini, warga Kampung Akuarium sedang menunggu  keputusan  gugatan class action yang mereka ajukan dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Berbagai cara juga telah mereka lakukan seperti aksi demo, membuat laporan ke Kepolisian Indonesia, meminta bantuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga kuasa perlindungan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Semuanya dilakukan karena warga berharap agar semua sadar akan kesalahan besar di balik penggusuran ini.

Engga ada penggusuran yang standar operasionalnya hanya 11 hari. Kami tidak diajak bersosialisasi, komunikasi, atau cari solusi kedua belah pihak,” tegas Yani.

“Tapi kami tetap percaya dengan hukum negara, dan harus menjadi bagian mereka. Tidak hanya jadi pengekor. Kita harus menentukan sikap, supaya eksistensi kita diakui oleh mereka,” lanjutnya.

Nilai sejarah yang tinggi juga selalu didengungkan pemprov DKI Jakarta sebagai alasan penggusuran. Ke depannya, bahkan mereka berencana untuk mengembalikan zona ini menjadi area wisata bersejarah seperti zaman Ali Sadikin.

Pelestarian kawasan Kota Tua Jakarta memang sedang digalakkan dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya pendekatan yang dipakai untuk area ini tidak sesuai dengan anjuran terbaru UNESCO yang sudah diterbitkan sejak tahun 2011.

Di dalam rekomendasi Historic Urban Landscape, UNESCO menegaskan bahwa cagar budaya bukan semata bangunan atau monumen, tapi juga lingkungan manusia beserta segala kualitas di dalamnya. Fokus restorasi sebuah kawasan harusnya juga tertuju pada peningkatan kelayakan huni suatu daerah, yang bisa dicapai dengan pembangunan ekonomi dan sosial yang seimbang. Oleh karena itu, berbagai pihak harus dilibatkan dalam perencanaan pelestarian.

Hal itu sejalan dengan pemikiran sosiologi perkotaan dan peneliti senior, Dr. Rita Padawangi. Ia yakin bukan hanya pemprov DKI yang ingin Jakarta lebih baik, tapi warga juga ingin kualitas hidupnya meningkat. Karena itu pertukaran gagasan antar pihak sangat diperlukan.

Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies juga menyatakan warga Kampung Akuarium adalah bagian dari sejarah kontemporer kota yang tentu harus diberi andil dalam proses pengambilan keputusan.

“Pendekatannya harus lebih ke bagaimana kita bisa hidup bareng. Cagar budaya ada, pariwisata jalan, permukiman ada. Kelas atas juga ada, tapi yang bawah juga tidak digusur. Perencanaan partisipatif akhirnya jadi kunci,” ujarnya.

Elisa menganggap warga sebetulnya sudah lama berkontribusi pada pariwisata di Kota Tua. Karena itu,  hidup berdampingan dengan visi pemerintah bukan hal mustahil. “Kalau saya lihat orang-orang Kampung Akuarium sangat ramah ya, dan sudah terbiasa ketemu sama turis.”

“Sebelum digusur pun, kampungnya sebetulnya cukup bersih. Dagangan mereka juga terfokus ke turisme, dan itu semua tanpa dilatih Dinas Pariwisata,” tuturnya.

Untuk membuktikan bahwa warga dapat hidup berdampingan dengan visi pariwisata pemerintah, RCUS bersama warga mengajukan sebuah proposal bernama Kampung Susun.

Selain bedeng, sebagian warga juga memilih tinggal bersama di dalam tenda darurat yang tersebar di dalam Kampung akuarium. ©Yusni Aziz

Ide dari proposal ini awalnya hadir dari analisa mendalam warga dan tim RCUS pada visi pemprov DKI Jakarta. “Setelah kita lihat tata ruangnya, dan melihat berbagai perkecualian. Ternyata masih bisa dibangun rumah susun di area itu,” jelasnya.

Kampung susun itu nantinya tetap akan dibangun di lahan Kampung Akuarium. Lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 50% dari luas total, sehingga sisanya dapat dipakai untuk membangun area rekreasi pemerintah.  Setiap blok hanya akan memiliki tinggi maksimal empat lantai, supaya tidak menggunakan lift dan untuk meminimalisir biaya konstruksi. Selain itu ia akan memiliki banyak ruang komunal di dalam bangunan dan sekitarnya.

“Dalam proses ini kita ingin menunjukkan ke pemerintah bahwa warga bisa loh menghargai peraturan, heritage, dan menciptakan ruang publik di sekitarnya,” lanjut Elisa.

Meski sebagian besar warga kecewa berat, bahkan nyaris frustrasi akibat penggusuran Kampung Akuarium, mereka masih optimis dengan perjuangannya. Warga berupaya menawarkan solusi yang memuaskan kedua belah pihak, untuk mereka dan pemerintah provisinsi. Warga pun siap diajak memajukan Jakarta. Bagi mereka, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menolak usulan mereka. Bukankah kota seharusnya dibangun dari, oleh pemerintah bersama warga, untuk  kebahagiaan semua penghuninya?

Tim Kampung Akuarium
Penulis
Iwan Setiawan, penulis lepas dan peracik kopi
Yusni Aziz, editor majalah online RUANG

Fotografer
Yusni Aziz

Reporter
Ari Muhrijal, relawan muda Kampung Akuarium
Rohman Muslim, relawan muda Kampung Akuarium

1 thought on “Menyalakan Harapan di Kampung Akuarium

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *