Gudang Tua yang Menyimpan Sejarah Kampung Tongkol

Categories Rekam

Jika kita mengikuti rute yang ditunjukkan Google Map untuk menuju Kampung Tongkol, kita harus masuk dari Jl. Pakin lalu memutar sambil menyisir pinggiran Ciliwung dari Kampung Kerapu. Beberapa bagian jalan pinggiran anak kali Ciliwung itu tak mulus, masih ada bekas pondasi rumah yang dibongkar oleh warga sendiri pada 2015 lalu. Warga Kampung Tongkol dan kampung-kampung di pinggir Ciliwung seperti Kerapu dan Lodan memang tengah menghadapi ancaman penggusuran lantaran posisinya di pingir kali dianggap menyalahi aturan. Warga kemudian bersiasat dengan memotong rumah selebar lima meter dari pinggir kali.
Ada rute lain yang lebih mudah menuju Kampung Tongkol, yaitu melalui jalan belakang. Ketimbang memutar lewat Kampung Kerapu, kita dapat masuk melalui lahan lapang yang jadi tempat parkir truk di depan asrama Direktorat Peralatan Angkatan Darat, Tentara Nasional Indonesia (Ditlapad TNI AD), Bengkel Lapangan A00 43 01. Selain memotong jalan, keuntungan lainnya adalah kita dapat menemukan bangunan tua bersejarah yang tersembunyi di belakang Kampung Tongkol.

Warga Kampung Tongkol begitu akrab dengan bangunan tua yang posisinya saling memunggungi dengan rumah mereka. Meskipun begitu, keterangan soal gudang tua dari warga cukup membingungkan. “Itu dulu buat gudang peluru Belanda,” kata Endang (53) saat ditanya soal sejarah bangunan tua di belakang rumahnya. “Bangunan itu dulunya buat menyimpan biji-bijian dan rempah-rempah,” kata Gugun Muhammad (34) tentang bangunan yang sama. “Itu dulu dipakai buat menyimpan barang-barang berbahan keramik dari Tiongkok,” timpal yang lain.

Jadi keterangan mana yang benar?

Sejauh yang dapat ditelusuri, semua keterangan mungkin sama benarnya. Bangunan tua itu telah difungsikan sebagai gudang sejak 1652. Berbagai pihak secara bergantian telah menjadikan gudang tua tersebut tempat untuk menyimpan berbagai komoditas. Peluru, biji-bijian, dan barang-barang berbahan keramik mungkin segelintir dari berbagai komoditas lainnya yang pernah disinggahkan di gudang tua tersebut.

Gudang tua yang dikepung timbunan material bangunan batu split dan abu batu. ©Azhar Irfansyah

Kini gudang tua yang tembok depannya bertuliskan “Major Massie” itu hanya terduduk masygul di hadapan puluhan truk yang parkir di sekitarnya. “Sudah lama disewakan ke perusahaan Remicon oleh pihak asrama,” kata Gugun. Pihak yang dikenal warga sebagai Remicon adalah perusahaan material bangunan ready mix and concrete. Sedang pihak asrama maksudnya adalah pihak Ditlapad TNI AD. Kondisi bangunan gudang tua telah renta termakan usia. Beberapa bagian bangunan mulai rontok tak terpelihara.

Pemerintah bukan hanya abai, tapi dalam sejarahnya juga pernah secara sengaja merusak kompleks gudang tua. Di tangan militer, satu-satunya gedung tua yang masih tersisa, juga terbengkalai. “Pihak militer hanya menyewakan saja, belum pernah ada bentuk pemeliharaan apa-apa,” kata Dedi (55), warga Tongkol yang pernah menjabat sebagai Ketua RT. Warga Tongkol yang bermukim di sekitar gudang tua juga tak bisa melakukan apa-apa. Menurut Dedi, pemeliharaan membutuhkan dana dan pengetahuan, oleh karenanya hanya dapat dilakukan oleh pemerintah.

“Banyak warga sekitar sini nggak tahu nilai sejarah gudang ini. Mungkin hanya 20 persen saja yang tahu,” tutur Dedi. Meskipun begitu, warga tetap segan pada si tua Major Massie. Barangkali bukan nilai sejarah, melainkan aura angker yang membuat warga Tongkol segan pada gudang tua. Dengan kebanggaan tersendiri, beberapa warga menyebutkan gudang tua pernah dijadikan tempat uji nyali oleh beberapa acara reality show di TV. “Tidak pernah ada satu pun yang berhasil!” kata Syafrudin (61) Ketua RT Tongkol dengan rona bangga.

Dari berbagai cerita warga maupun pengunjung, penunggu gudang tua menampilkan diri dengan berbagai rupa. Salah satu yang paling ikonik adalah noni Belanda yang kerap ikutan nongol ketika ada pengunjung swafoto di dekat gudang tua. Ada juga pocong yang pada dini hari melintas di atas sisa tembok tua di belakang gudang.

Ketika ditanya soal kisah-kisah gaib itu, banyak warga bilang sudah terbiasa. “Di Jakarta yang penting bisa merem mas,” kata seorang warga yang biliknya menghadap langsung ke sisa tembok tua. Seorang warga lain justru menganggap penunggu gaib gudang tua turut menjaga keamanan Kampung Tongkol. “Kita parkir motor depan rumah, Alhamdulillah, sampai sekarang aman-aman saja, mungkin malingnya udah ngeri duluan sama hantu gudang tua,” tuturnya sambil kemudian terkekeh.

Aura angker gudang tua dipercaya mendatangkan bala bagi orang yang hendak berulah di Kampung Tongkol. Hal ini seolah terbukti ketika 2015 lalu seorang sopir truk nahas ditemukan tewas saat sedang buang air besar dalam gudang tua. “Mungkin dia itu mabuk-mabukan terus kelewatan sampai akhirnya begitu,” kata Maedah (78) yang tinggal di belakang gudang tua. Maedah sendiri tak begitu percaya pada cerita-cerita hantu dan selalu mencoba berpikir rasional.

Hubungan gudang tua dan Kampung Tongkol jauh lebih nyata dari hantu-hantu yang tidak dipercaya oleh Maedah.

Saodah, perempuan tua yang ramah, selalu bicara pelan, dan andal di dapur adalah saksi hidup dari kelindan sejarah Kampung Tongkol dan gudang tua. Pada mulanya adalah kakek Saodah yang merantau ke ibu kota republik yang dulu turut ia perjuangkan dalam revolusi fisik. “Kakek saya dulu ikut berjuang, tapi tidak lantas punya nama besar. Tetap jadi rakyat kecil,” tutur Saodah. Luntang-lantung dari Kuningan di Jawa Barat ke Jakarta, kakek Saodah akhirnya bermukim di pinggiran Ciliwung yang kini jadi Kampung Tongkol. Ia bangunkan lahan tidur di belakang kompleks gudang tua dengan berkebun.

Kakek Saodah menanami lahan di tepi kali dengan jagung dan pisang. “Orang zaman dulu kan nggak bisa diam, nggak bisa lihat tanah nganggur,” kata Saodah. Kegiatan bertani urban ala kakek Saodah itu baru berhenti ketika pada 1969 Dawid dan Juju meminta lahan jagung dan pisang untuk dipatok. Dawid dan Juju dulunya bekerja sebagai penjaga gudang yang sudah dikelola oleh militer. “Waktu zaman Soeharto kan rakyat pada takut sama baju loreng,” kata Saodah. Pada 1968 hingga 1969 Saodah pulang ke Kuningan untuk mengenyam pendidikan di kampungnya. Sepulang dari Kuningan ia menemukan kebun pisang dan jagung kakeknya sudah beralih menjadi rumah-rumah. “Banyak penduduk baru itu kemungkinan membeli tanah yang dipatok pak Dawid dan pak Juju. Mereka itu tuan tanah Kampung Tongkol. Sekarang udah pada meninggal,” terang Saodah.

Selain membeli dari Dawid dan Juju, ada pula warga yang datang karena punya hubungan kerja dengan pihak Ditlapad yang mengelola gudang tua. “Dulu ayah saya sempat ditawarkan tinggal dalam asrama dalam kompleks gudang, tapi memilih tetap di Kampung Bandan,” tutur Syafrudin, Ketua RT Tongkol. Saat terjadi penggusuran di Kampung Bandan akhirnya ayah Syafrudin membangun rumah di tepi Ciliwung, belakang gudang tua. “Kayu untuk membangun rumah diberi oleh komandannya,” kata Syafrudin.

Ketika terjadi pembangunan jalan tol pelabuhan, bukan hanya dua gudang tua yang tergusur, melainkan juga asrama dan musala Ditlapad. “Asrama yang sekarang itu dibangun setelah tergusur oleh jalan tol,” terang Asnah (45). Penggusuran demi jalan tol menyisakan dua gudang tua, namun yang satu sudah dalam kondisi sangat bobrok. Gudang tua yang sudah bobrok itu akhirnya ambruk dengan sendirinya pada 2005. Kala itu warga turut mengambil puing-puing gudang tua yang ambruk. Salah satu yang banyak diambil warga adalah batu bata, lantaran batu bata dari gudang tua yang ambruk lebih kuat dari batu bata biasa.

Sebelum penggusuran untuk jalan tol, warga Kampung Tongkol tidak berani mendekat atau memunguti apa pun dari kompleks gudang tua. “Dulu ada pagarnya. Pernah satu gudang dijadikan pabrik tahu, saya biasa beli tahu lewat pagar,” kata Saodah. Setelah penggusuran, dua gudang yang tersisa tidak lagi dipagari.

Ketika penyewa swasta mulai meninggalkan gudang tua yang semakin bobrok, warga kecipratan berkah. “Piring-piring keramik merk Sango diobral murah. Perkakas masak juga diobral,” kata Saodah. “Saya beli penggorengan bagus, cuma Rp10.000 aja,” timpal Asnah.

Terinspirasi obral keramik cuci gudang tua itulah beberapa warga kampung kemudian mengusulkan gudang tua terakhir yang tersisa, si tua Major Massie, dijadikan museum piring. “Lebih bagus kalau dijadikan cagar budaya,” kata Asnah. Banyak warga lain juga bersepakat pada gagasan pemugaran gudang tua untuk dijadikan cagar budaya. “Nanti kita bisa hias kampung, bisa bikin usaha,” kata Maedah antusias.

Pemugaran gudang tua sendiri sudah diwacanakan bertahun-tahun, namun belum ada kerja nyata dari pemerintah. Status pengelolaan gudang tua yang masih di bawah Ditlapad menjadi salah satu penghalang. Hingga kini gudang tua dan lahan sekitarnya masih disewakan Ditlapad pada perusahaan Remicon. Timbunan batu split menggunung, membentuk bukit kecil yang nyaris menempel dengan tembok gudang tua. Beberapa mesin produksi yang sudah rongsok juga dibiarkan berkarat tak jauh dari gudang tua. Melihat kondisi terakhir ini, pemugaran tampaknya akan jadi tugas yang berat.

Bagian belakang kampung Tongkol yang berbatasan langsung dengan tembok dari kompleks gudang tua. ©Azhar Irfansyah

Terakhir kali wacana pemugaran muncul kembali pada masa kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta. Saat menemani salah satu kandidat, Anies Baswedan, berkampanye di Kampung Tongkol, perencana urban dan dewan pakar tim Anies-Sandi, Marco Kusumawijaya menjanjikan gudang tua ”nantinya bisa dibuat semacam heritage landscape, yang tentunya berkesinambungan dengan kehidupan warga Kampung Tongkol.”

Artinya, gudang tua dipugar dan warga Kampung Tongkol yang selama ini dicap ilegal tetap tinggal untuk ikut menjaga gudang tua sebagai cagar budaya. Gagasan cagar budaya yang berkesinambungan dengan kehidupan warga sudah mulai dirintis bahkan sebelum kampanye gubernur DKI marak. Seperti dicatat berbagai dan media massa, warga-warga yang sadar akan nilai sejarah gudang tua mengusulkan prospek-prospek cagar budaya, salah satunya adalah usulan menjadikan gudang tua sebagai museum piring sebagaimana tercatat oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur.

Bagi banyak warga, prospek gudang tua sebagai cagar budaya yang berkesinambungan dengan kehidupan warga merupakan prospek yang paling ideal. Harapannya, dengan begitu Kampung Tongkol akan selamat dari penggusuran. “Kita bangun kampung ini kan dengan modal dan tenaga sendiri. Biar pun di pinggir kali, masih lebih baik ketimbang telantar. Toh kalau kita telantar pemerintah sendiri yang malu,” pungkas Saodah.

Tim Kampung Tongkol
Penulis & fotografer:
Azhar Irfansyah, editor Islam Bergerak

Reporter:
Siti Maymunah, relawan muda Kampung Tongkol
Sabrina Burhanudin, relawan mahasiswa UI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *