Bin Jamin dan Para Jawara Kampung Lodan

Categories Rekam

Babah Aik kaget saat mandor kepercayaannya, bin Jamin, tiba-tiba menggebrak meja kantor dengan mata melotot sambil membawa golok.

“Kalau babah tak mau ngasih itu tanah, saya bakar gudang ini,” kata bin Jamin.

Tanah yang dimaksud bin Jamin adalah sebujur lahan panjang selebar dua meter yang kelak akan menjadi gang penghubung Kampung Lodan dengan jalan besar dengan nama yang sama di Jakarta Utara.

Pada tahun 1970-an itu, bengkel kayu ukir milik babah Aik memang tengah kejang-kejang karena tak lagi mendapat pesanan besar untuk mengisi perabotan istana Bogor. Ontran-ontran tahun 1965 membuat koneksi sang pengusaha China dengan penguasa bubar, sehingga si babah miskin orderan.

Setelah sempat bertahan selama sepuluh tahun, babah Aik menyerah. Dia menjual gudangnya kepada pengusaha lain setelah memecat semua karyawan yang tinggal di belakang gudang persis di samping anak kali Ciliwung.

Saat itulah bin Jamin datang marah-marah pada babah Aik. Si mandor khawatir pemilik baru akan menutup gang akses terdekat Kampung Lodan ke jalanan. Dia memaksa babah Aik tidak memasukkan gang tersebut dalam akta jual beli.

***

Ini adalah cerita tentang Lodan, sebuah kampung pinggir anak kali Ciliwung yang terletak di  tengah-tengah dua pusat peradaban kolonial. Satu kilometer di utara ada bekas  pelabuhan Sunda Kelapa yang sempat menjadi titik serang utama tentara Demak saat hendak  membebaskan wilayah tersebut dari Portugis. Sementara beberapa kilometer di selatan, ada kawasan Kota Tua dengan gedung-gedung besar yang dulu digunakan para gubernur jenderal Hindia Belanda sebagai kantor pengatur wilayah jajahan.

Lodan adalah miniatur sejarah ekonomi politik Indonesia, dari anak emas Orde Lama yang gemar kemegahan, sampai menjadi remah-remah sekaligus penyangga rezim pembangunan Presiden Soeharto. Bin Jamin, Naya, dan para warga yang tersisa adalah pendiri kampung itu. Mereka adalah bagian penting dari sejarah Indonesia yang tak tercatat, dan mungkin sebentar lagi tak mendapat tempat.

Bin Jamin sudah mati tua sejak tahun 2011. Asal-usul maupun kapan dia lahir tidak pernah jelas. Informasi tentang jawara pemabuk itu hanya bisa didapat dari ingatan samar-samar istrinya, Naya, dan keterangan beberapa warga Lodan yang sudah mengenalnya sejak lama.

Cerita ini dihimpun dari wawancara dengan Naya dan para warga seperti Salijan, Dedi, Juwitno, Nila, dan Rages.

Naya memegang satu-satunya foto kenangan bin Jamin, almarhum suaminya, dan anaknya. ©Aditya E. Wicaksono

Pada Mulanya Adalah Judi

Di Kampung Lodan, tidak  ada  yang berani melawan bin Jamin yang katanya punya 80 guru dari Banten sampai Tanah Abang. Salah satu saksi hidup kesaktian bin Jamin adalah  Nila, cucu keluarga Naya yang kini mengurus hidup janda renta itu. Pernah suatu sore saat pulang kerja dari pabrik, Nila tiba-tiba kesurupan.

“Kata orang-orang sih kesambet,” kata Nila. Hanya dengan minum air bercampur ludah bertuah bin Jamin, perempuan itu hidup sehat hingga sekarang.

Tapi bin Jamin bukan jawara Betawi tipikal seperti Pitung, si Muslim taat rajin shalat. Dia penjudi payah yang selalu ketagihan tuak. Setiap Sabtu, semua keping rupiah dari hasil kerja kerasnya seminggu mengepul kayu dihabiskan di meja ceki.

“Suka takut saya tong, kalau abah baru pulang maen dan mabuk. Pasti marah-marah dia, tapi abah gak pernah mukul,” kata Naya.

Nama lengkapnya Nedi bin Jaminan. Pada masa muda terkenal sebagai bin Jamin, tapi tuanya dipanggil abah Nedi. Kalau diusut-usut, entah kenapa orang ini selalu bau-bau judi. Dari ketemu jodoh sampai, tanah, hingga nasib anak, semuanya dipertaruhkan dalam spekulasi yang kadang tidak masuk akal.

Soal jodoh misalnya. Bin Jamin pertama ketemu Naya saat main koprok—sebuah permainan tebak angka dua dadu yang dikocok menggunakan tempurung kelapa—di sebuah pasar di Bogor tahun 1950-an awal.

Naya, gadis belasan tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Mangga Besar, Jakarta, baru saja tiba di Bogor untuk mengunjungi sepupunya.

“Ada orang Jakarta, ada orang Jakarta!” teriak bin Jamin begitu matanya menangkap Naya.

Naya ketakutan, terbirit lari pulang ke rumah sepupu. Tapi si preman pasar mengejar, menggedor-gedor pintu minta kenalan. Entah bagaimana ceritanya, Naya terbujuk dan mau menikah dengan sang pemuda urakan.

“Pokoknya waktu itu baju masih tujuh rupiah, tong,” kata si Naya, perempuan yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengenal huruf kecuali angka-angka pada lembaran uang, saat ditanya tahun berapa dia menikah.

Soal jodoh ini adalah bau judi pertama yang bisa dilacak dari hidup bin Jamin. Yang kedua ini lebih dramatis. Setelah menikah, bin Jamin tidak tanggung-tanggung mempertaruhkan hidupnya saat meminta Naya berhenti bekerja untuk majikannya. Dia nekad membawa istrinya tinggal di gudang mebel kayu milik babah Aik. Di ruang besar terbuka itu mereka bercinta beralas papan. Sementara sungai di belakang menjadi kakus, tempat mencuci, sikat gigi, sekaligus jadi air untuk memasak.

Pilihan untuk tinggal di gudang adalah perjudian yang membawa kemenangan sekaligus kekalahan paling telak sepanjang hidup bin Jamin. Judi sebenarnya bukan kata yang tepat karena kata ini mengindikasikan bahwa sang pemain punya pilihan untuk bertaruh atau meninggalkan meja. Naya dan bin Jamin tidak punya kemewahan itu.

Gudang kayu bekas milik babah Aik, belakang Kampung Lodan, yang kini sudah hampir tidak beroperasi lagi. ©Aditya E. Wicaksono

Tahun-tahun awal mereka menikah bertepatan dengan periode kala bendu ekonomi Indonesia. Dua kali pemerintah menyunat harta keluarga bin Jamin dalam kebijakan gunting uang Syafruddin tahun 1950 dan devaluasi rupiah hingga 50% tahun 1959. Katanya untuk menekan inflasi. Uang saat itu tidak berharga dan lebih layak dibuang untuk seru-seruan main dadu koprok.

Dalam situasi itu tidak mungkin bin Jamin membelikan istrinya rumah kecil yang layak. Kontrakan murah juga belum ada. Mungkin karena kasihan melihat nasib buruhnya, babah Aik mengizinkan bin Jamin mendirikan rumah di belakang gudang, yang saat itu masih berupa rawa-rawa, dengan kayu sisa milik perusahaan.

Beberapa buruh gudang yang bernasib sama juga mengikuti jejak si mandor Jamin. Inilah cikal bakal Kampung Lodan yang saat ini sudah berusia hampir delapan windu.

Kampung yang didirikan bin Jamin dan istrinya ternyata membawa bencana. Tahun 1960, satu-satunya anak pasangan itu mati kena muntaber—sebuah penyakit yang mungkin disebabkan oleh bakteri dari makanan yang dimasak dengan air bercampur kencing dan tahi anak kali Ciliwung. Kesaktian bin Jamin, yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit hanya dari mantra yang diludahkan ke segelas air putih, tidak mempan terhadap anaknya sendiri.

“Waktu itu gak ada dokter, tong,” ujar Naya yang tidak punya keturunan lagi setelah anak pertamanya bertemu ajal.

Lalu datanglah Tragedi 1965. Harga sembako naik enam kali lipat. Ada penculikan para jenderal lalu darah di mana-mana. Naya yang mengaku tidak tahu sama sekali peristiwa ini ikut menanggung akibatnya. Gudang tempat suaminya bekerja hampir bangkrut miskin pesanan.

Suasana depan Kampung Lodan. Di tahun 2015, warga secara sukarela membongkar rumahnya untuk memenuhi syarat jarak 5 meter dari tepi kali dan menghindari penggusuran. Lantai bekas bongkaran masih terlihat. ©Aditya E. Wicaksono

Naya sempat berjualan nasi uduk di pinggir jalan untuk membantu suaminya mencari uang tambahan. Tapi usaha ini tidak bertahan lama karena perangai bin Jamin yang cemburuan saat Naya melayani pelanggan. Pernah suatu saat, sang jawara ngambek tidak mau bercinta dengan Naya sepanjang pekan setelah membentak istrinya,“Ngobrol aja lu!” di depan pembeli pria.

Keadaan semakin bertambah buruk setelah beberapa karyawan gudang yang tinggal di Lodan mulai membongkari rumah bedeng mereka satu-per satu. Mereka keluar kampung mencari penghidupan lain. Hanya bin Jamin dengan sedikit warga pendatang buruh pabrik lain di Jakarta Utara yang bertahan di Lodan.

Puncaknya terjadi saat bin Jamin mendengar kabar bahwa babah Aik akan menjual gudang yang terus-menerus rugi itu pada tahun 1970-an. Tanah yang warga tinggali saat itu diasumsikan masih menjadi bagian dari harta perusahaan, sehingga pemilik baru bisa setiap saat mengusir mereka.

Pada titik inilah bin Jamin mendatangi kantor babah Aik, meminta agar tanah kampung di belakang gudang dan gang di tengahnya untuk tidak ikut dijual. Si bos menyetujui tuntutan mandornya dan secara khusus menyerahkan lahan kampung kepada bin Jamin dan satu orang kepercayaan lain.

“Saya menyaksikan sendiri penyerahan tanah kampung ini dari pemilik gudang ke abah Nedi (panggilan bin Jamin tua),” kata Juwitno yang sudah tinggal di Lodan sejak 1970-an.

Tentu saja sampai sekarang tanah itu tak bersertifikat. Sebabnya banyak. Pertama, bin Jamin dan istrinya sama-sama buta huruf. Kedua, tidak ada satupun badan negara yang menanyakan keabsahan kepemilikan tanah itu sampai ramai-ramai penggusuran tahun 2015. Ketiga, para pendatang baru yang menempati  tanah  warisan  gudang  di  Lodan  tahun  1970-1980-an  lebih sibuk menyelesaikan perkara keseharian seperti bagaimana mendapat listrik dan air bersih. Pendeknya, mengurus sertifikat adalah kemewahan yang tidak pernah mereka tahu.
Sebuah Orde tentang Pembangunan

Jaman mulai berubah. Soeharto, si presiden baru, katanya lebih  suka mengurus orang asing  yang  membawa dolar ketimbang warganya sendiri. Hanya beberapa bulan setelah berkuasa, Soeharto mengeluarkan sebuah undang-undang yang membuat Indonesia layaknya perawan yang siap menerima pinangan pemuda desa mana saja asal kaya.

Tentu saja bin Jamin tidak tahu perkembangan ini. Di radio gudang, dia hanya mendengar kata pembangunan dan tinggal landas terus-menerus diulang tanpa bisa dimengerti maknanya oleh orang sudah beranjak tua itu.

Bin Jamin dan Naya baru mengetahui makna kata pembangunan itu setelah menengok tidak jauh ke utara, di sekitar pesisir Ancol, yang hanya berjarak kira-kira 3 kilometer dari Lodan. Tiba-tiba saja banyak berdiri bangunan-bangunan megah yang menurut orang-orang adalah pabrik. Dari penghasil baja, kaca, susu, sampai mie instan, semuanya ada di situ. Pelabuhan Sunda Kelapa yang hanya beberapa ratus meter dari Lodan kembali ramai seperti masa kolonial.

Juwitno, saksi hidup penyerahan tanah gudang milik babah Aik kepada Nedi bin Jamin yang sekarang menjadi Kampung Lodan. ©Aditya E. Wicaksono

Keluarga bin Jamin semakin mengerti makna pembangunan setelah bekas gudang babah Aik malah maju di tangan pemilik baru. Gudang itu tidak lagi menyimpan mebel untuk istana, tapi kayu gelondongan. Bin Jamin mendapat pekerjaan sebagai sopir di sana. Setiap hari dia mengantar kayu-kayu itu ke area pusat kota, seperti Sudirman dan Kuningan, untuk dijadikan gedung-gedung tinggi yang mungkin tidak pernah dia masuki.

Tahun 1970 hingga 1980-an itu, banyak orang mulai datang mendirikan bedeng-bedeng di Lodan untuk mencari remah-remah sisa orde pembangunan Presiden Soeharto. Para pendatang baru itu pada umumnya adalah remaja-remaja putus sekolah dari daerah ngapak seperti Bumiayu, Cilacap, dan Tegal. Bin Jamin memberikan tanah warisan babah Aik begitu saja kepada mereka dengan sedikit ganti uang rokok.

Lodan, dengan rumah-rumah kayu yang awalnya bisa dihitung dengan jari berjejer sekitar 10 meter dari bibir Ciliwung, menjadi kawasan padat. Bedeng-bedeng itu terus beranak pinak mendesak ke tengah kali dalam bentuk rumah panggung.

Di kawasan ibu kota yang terletak hanya beberapa kilometer dari Istana Merdeka itu, warga Lodan bertahan tanpa listrik dan harus menggunakan lampu kecil bertenaga minyak tanah jika ingin ada cahaya sewaktu malam. Beberapa orang mencuri listrik dari gudang untuk menyalakan televisi hitam putih dan ramai-ramai satu kampung menonton Dunia dalam Berita setiap malam, atau Si Unyil saat hari libur.

Sementara itu air sungai sudah tidak bisa lagi digunakan untuk minum karena tercemar sampah industri dan rumah tangga dari hulu. Orang-orang Lodan terpaksa menghabiskan 200 sampai 400 rupiah setiap harinya, atau setara dengan harga 0.5 hingga 1 kilogram beras pada saat itu, untuk membeli satu jeriken air bersih dari penjual yang berkeliling kampung dengan gerobak.

Golok dan mantra bin Jamin tidak berdaya mengatasi perkara baru orang modern seperti listrik, air, dan penggusuran. Soal yang terakhir ini muncul pada tahun 1992, saat Gubernur Wiyogo Atmodarminto, hanya beberapa bulan setelah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menang pemilu di sana, memaksa warga Lodan untuk menghancurkan rumah-rumah panggung sendiri yang memakan kali. Setidaknya saat itu warga yang tergusur diberi tanah ganti di Tangerang.

Bin Jamin pensiun sebagai jawara. Mungkin karena sadar kesaktiannya sudah tak berguna. Tapi beberapa warga Lodan lain menjadi murid ideologis yang mewarisi kengototan mempertahankan tanah sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Salah satu murid bin Jamin itu bernama Salijan. Sekarang mungkin pria ini sudah berumur 50-an. Dia datang ke Lodan dari sebuah desa di Bumiayu tidak lama setelah putus jenjang SMP di tahun 1984. Sama seperti bin Jamin, Salijan juga bekerja di gudang kayu belakang kampung sebagai buruh angkut sebelum dipercaya menjadi sopir setelah cukup umur.

Setelah gudang itu hampir bangkrut untuk kedua kalinya tahun 2000-an, Salijan mencari uang dengan menjadi sopir seorang majikan Tionghoa di Glodok hingga saat ini. Sebagian besar warga Lodan sekarang juga bernasib sama dengan Salijan, pengemudi mobil bak gudang yang beralih kerja jadi sopir pribadi.

Murid-Murid Ideologis Bin Jamin
Tidak ada kerumunan nyamuk yang haus darah pada malam senyap pertengahan  Agustus  2015  itu. Hampir  tidak  ada  rumah  yang berani menyalakan televisi, karena hari itu semua orang takut akan berita teror  tentang  kampung  pinggir  Ciliwung  di  selatan  yang rata dengan tanah habis hujan. Bulan kemerdekaan yang seharusnya meriah mendadak senyap.

Malam itu para jawara dari kampung-kampung di Jakarta Utara berkumpul dengan raut muka tegang. Beberapa murid bin Jamin seperti Salijan dan Dedi juga datang. Sudah lama mereka mendengar desas-desus tentang penggusuran rumah-rumah di pinggir kali Ciliwung, sejak pak lurah meminta data penduduk setahun lalu. Tapi baru kali ini mereka benar-benar melihat sendiri bagaimana tentara, pentungan, dan alat-alat berat dengan mudah mengalahkan barikade perlawanan para pendekar Kampung Pulo di Jakarta Timur yang katanya punya ajimat dari ngalap berkah di makam keramat Habib Alaydrus.

Mungkin saat itu Salijan baru merasakan pengalaman gurunya, bin Jamin, yang was-was kehilangan rumah saat gudang babah Aik mau bangkrut.

Banyak orang bilang kalau mereka seharusnya berterimakasih kepada pemerintah yang mau memindahkan warga Lodan ke rumah susun yang jauh dari kata kumuh. Tapi orang-orang itu tidak tahu bagaimana bin Jamin mengubah rawa-wara pinggir kali menjadi perkampungan dengan menumbalkan nyawa anaknya sendiri, dengan cara yang lebih dramatis dari legenda penyembelihan Ismail oleh Ibrahim.

Murid-murid bin Jamin juga sadar kalau bedeng di pinggir kali tidak cukup untuk disebut sebagai rumah. Puluhan tahun mereka tinggal di sana tanpa listrik, air, sanitasi, ruang terbuka bersama, dan kebutuhan dasar permukiman lainnya.

Tidak ada yang ingat kapan dan bagaimana listrik mengaliri rumah-rumah di Lodan. Kata beberapa orang, yang jelas setelah penggusuran tahun 1992, meski sudah membayar pajak bumi dan bangunan sejak satu dekade sebelumnya.

Namun Salijan masih ingat kekecewaan warga tahun 1990-an saat permintaan mereka untuk mengaliri rumah-rumah di Lodan dengan air bersih ditolak oleh PDAM. Perusahaan daerah itu memberi syarat warga harus membayar uang Rp20 juta, yang saat ini setara dengan Rp200 juta jika dihitung dengan inflasi harga beras, untuk membangun pipa. Tentu saja warga tidak mampu dan terpaksa bertahan dengan air jeriken yang harganya sangat mahal. Baru 10 tahun kemudian warga berhasil mendapatkan akses air murah saat pemerintah memaksa PDAM dengan menetapkan target pipanisasi besar.

Murid-murid bin Jamin itu juga mengusahakan sendiri ruang terbuka seadanya bagi anak-anak, jauh sebelum Gubernur Joko Widodo mencanangkan program satu taman satu kelurahan yang dipuji banyak orang itu. Mereka memaksa pemilik gudang belakang kampung, sebelah bekas milik babah Aik, untuk membiarkan para remaja bermain sepak bola di halaman perusahaan.

Lalu datanglah kabar penggusuran itu. Sebuah kampung yang menyimpan memori kolektif soal pergumulan mengubah rawa-rawa menjadi kampung yang punya listrik dan air sendiri, akan diganti dengan sebuah ruang sewa seluas 4 x 6 meter. Tentu saja mereka tidak terima. Bagi warga, pemerintah bertingkah seperti bandar judi yang hanya mau menerima uang listrik dan pajak bangunan, tanpa mau membayar dengan penataan jika kebetulan petaruh menang.

Murid-murid bin Jamin sadar ancaman kali ini tidak bisa selesai dengan ajimat ilmu kebal dan golok seperti yang dilakukan gurunya. Salijan, Dedi, dan para pendekar itu memutuskan pembentukan organisasi sebagai metode melawan penggusuran, mirip seperti Minke, tokoh utama tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yang mengikhtiarkan persyarikatan untuk menghadapi kuasa gubernur jenderal Hindia Belanda. Para jawara Lodan pun tidak sendirian, mereka menemui para jawara dari kampung-kampung sekitar pinggir kali dan akhirnya membentuk sebuah perkumpulan bernama Komunitas Anak Kali Ciliwung pada 2014.

“Setelah melalui banyak rapat, kami memutuskan banyak langkah radikal untuk mempertahankan kampung,” kata Salijan yang jadi sekretaris jenderal Komunitas Anak Kali Ciliwung. Langkah radikal itu menjadi perjudian terbesar di Lodan, sejak bin Jamin mempertaruhkan keluarganya saat meminta Naya tinggal di gudang babah Aik—yang akhirnya berakhir tragis.

Beberapa jawara perwakilan warga pinggir Ciliwung memutuskan berunding dengan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok soal penataan kampung. Mereka mengaku siap membongkar ulang rumah yang berada 5 meter dari pinggir kali dengan dana mandiri untuk memenuhi keinginan gubernur membikin jalan inspeksi. Di sini, warga menghadap ke pemerintah untuk menghancurkan pemukiman yang mereka bangun pelan-pelan selama puluhan tahun untuk mendapatkan hak mereka. Sepertinya dunia memang begitu jalannya, wargalah yang melayani keinginan penguasa, bukan sebaliknya.

“Kalian ini gila,” kata Ahok menjawab rencana mereka tanpa memberi kepastian apakah dirinya akan menggusur Lodan selebar 5 atau 15 meter dari pinggir kali.

Meski tanpa kepastian, orang-orang Lodan nekad meneruskan rencana mempertaruhkan kampung dengan membongkar rumah. Tegel bekas lantai masih terlihat hingga saat ini, sementara rumah-rumah berjejer lurus semakin tinggi untuk menyiasati kebutuhan ruang.

Tidak hanya rumah yang mereka rombak. Komunitas Anak Kali Ciliwung juga meminta bantuan para cendekia dari Universitas Indonesia dan beberapa institusi lain seperti Lab Tanya untuk mengajari bagaimana mengelola sampah secara mandiri, menggarap sayuran, dan memastikan sanitasi. Semuanya untuk meyakinkan tuan gubernur (jenderal) bahwa sang rakyat bukan biang masalah, dan negara tidak perlu keluar biaya besar untuk mengerahkan pasukan oranye bersih-bersih kali.

Sekarang, sudah tiga gubernur berganti sejak zaman Jokowi, pun sebentar lagi akan ada yang keempat. Tapi tidak ada yang tahu pasti apakah perjudian-perjudian besar para jawara Lodan akan berakhir dengan penggusuran atau penataan di tempat. Satu hal yang jelas dalam arena judi, bandar tidak pernah kalah karena mereka yang bikin aturan.

 

Tim Kampung Lodan
Tim penulis:
GM Nur Lintang Muhammad, wartawan Kantor Berita Antara
Fatimah Zahrah, Islam Bergerak

Fotografer
Aditya E. Wicaksono, wartawan Kantor Berita Antara

Reporter
Rages Ryandi Putra, relawan
pemuda Kampung Lodan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *