Kampung Hijau Penjaga Kota Bertahan di Reruntuhan

Categories Rekam

Mei 1998

Di daerah Glodok sampai Kota Tua jalanan penuh oleh iring-iringan manusia kalap. Api di mana-mana. Warga Kampung Kunir di belakang ruko Pinangsia berjaga-jaga di tiga titik, jangan sampai amuk massa itu menyentuh wilayah mereka.

Tokoh-tokoh penting Kampung Kunir—almarhum pak Buyung Hendra, almarhum pak Imam Suyono, pak Samiran, dan pak Suhadi—bersama warga melindungi wilayah mereka dan kawasan ruko di Pinangsia, yang terletak di belakang kampung dan kebetulan banyak ditinggali warga Tionghoa.

Sembilan belas tahun kemudian, pada bulan Agustus 2017, Suhadi dan Marsa masih ingat hari itu. “Jalanan penuh, iring-iringan, teriak-teriak, ngangkutin TV, kulkas. Saya takut sendiri, beringas amat. Api di mana-mana,” kata Suhadi (61), sesepuh kampung.

Hari itu mereka paham tugas mereka sebagai warga negara dan warga Kampung Kunir: jangan ada yang menjarah ruko.

“Kita semua sudah standby. Tapi entah kenapa untungnya tidak ada yang nyolek sini. Yang penting wilayah sini aman,” kata Suhadi.

Suhadi (61) telah menjaga ruko Kunir dan sekitarnya sejak tahun 1980-an, termasuk saat kerusuhan Mei 1998. ©Jurnasyanto SukarnoBagi mereka ini bukan hanya perkara solidaritas dengan tetangga Tionghoa, tetapi masalah tanggung jawab juga karena Kampung Kunir sejarahnya adalah kampung penjaga wilayah Jl. Pancoran di Glodok, Museum Sejarah dan Taman Fatahillah, Jl. Kunir, dan Jl. Cengkeh di Jakarta Barat. “Kalau dulu namanya ‘hansip’,” kata Suhadi.

Penghuni ruko sendiri tidak berani keluar. Tapi Suhadi dan Marsa mengatakan mereka menjaga tanpa perlu diminta.

Mei 2015

Lima ratus petugas Satpol PP merangsek ke Kampung Kunir. Dua beko sudah siap menggaruk rumah-rumah tempat sekitar 100 keluarga tinggal, persis di depan kompleks ruko Pinagsia yang pernah diselamatkan warga.

Negosiasi sebelumnya berjalan alot dan malam sebelum penggusuran, dalam keadaan putus asa, warga berusaha menemui gubernur saat itu, Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, untuk memohon penundaan.

Mereka bersama warga kampung sekitar yang bersolidaritas berangkat ke kediaman Ahok di perumahan Pantai Mutiara yang dijaga berlapis dan terletak hanya beberapa kilometer dari Kunir. Namun niat mereka dihentikan satpam komplek yang segera menghubungi polisi. Tak lama mereka pun diusir dan media memberitakan warga ingin menyerang Ahok di tempat tinggalnya.

“Sama sekali tidak ada niatan itu,” kata Marsa.

Suhadi membenarkan, “Kami mau ketemu baik-baik, tapi bahasa wartawan jelek. Ini warga, pingin ketemu pimpinannya, minta kebijaksanaan.”

Saat itu jalan sudah hampir buntu bagi warga, tak ada cara lagi selain meminta “kebijaksanaan” Ahok. “Beko sudah parkir di sana, sementara kami tidak mau ke rumah susun,” kata Suhadi.

Rumah susun yang ditawarkan berada di Marunda, yang lokasinya bukan hanya di kota madya lain, Jakarta Utara, tetapi juga sangat jauh dari Kunir.

Warga masih berharap ada ruang untuk pembatalan sehingga banyak dari antara mereka tidak berkemas. Apalagi sehari sebelumnya mereka menemui wakil gubernur, Djarot Saiful Hidayat, yang berjanji akan mendiskusikan permintaan warga dan meminta waktu tiga hari untuk memutuskan.

Tapi janji tiga hari itu tidak pernah ditepati. Hanya sehari setelah pertemuan itu, Satpol PP dan beko merangsek. Mereka tidak tahu dan peduli tentang janji Djarot. Wilastri Nilasari (41) yang belum berkemas memohon waktu dua jam untuk mengumpulkan hartanya. Tapi beko tidak menggubris. Hari itu petugas mengeluarkan barang Wilastri dengan kasar sehingga beberapa barang seperti rak rusak.

Kampung para penjaga wilayah ini pun hancur lebur.

Kampung Hijau

Sebelum penggusuran, Kampung Kunir di pinggir anak kali Ciliwung, adalah kampung hijau yang membikin bangga warganya. Kampung ini memenangi lomba “Jakarta Green and Clean” pada tahun 2010.

Sertifikat penghargaan upaya ratusan warga menjaga kampung hijau dan bersih ini diberikan oleh pemerintah DKI Jakarta, yang kemudian meluluhlantakkan kampung hijau ini dengan beko.

Tak ada lagi pohon jambu, pohon mangga, pohon kelapa yang dirawat di sana. Tak terlihat lagi warga ngobrol sambil membuat rujak. Tak ada lagi pot-pot tanaman obat keluarga. Tak ada lagi kerja bakti warga. Keasrian telah digantikan oleh beton “jalan inspeksi” yang buntu terhadang rel dekat Stasiun Kota. Yang memanfaatkan jalan baru ini sekarang adalah truk-truk sampah yang parkir di belakang kantor Kecamatan Taman Sari dan beberapa mobil pribadi.

Penggusuran itu juga menghancurkan banyak hal yang dibangun warga sendiri: musala, taman kanak-kanak dan fasilitas pendidikan anak usia dini, pos RW, dan koperasi wanita Anggrek yang sudah berdiri tujuh tahun lamanya.

Sejarah Kunir sebagai Penjaga Wilayah

Sebermula adalah tiga penjaga keamanan Kota Tua membabat alang-alang tinggi untuk membangun rumah di tahun 1979 di masa ketika wilayah itu menakutkan. “Dulu syiarnya di sini daerah hitam,” kata Suhadi.

Satu Minang, satu Batak, dan satu Jawa. Buyung, Aritonang, dan Suhadi.

Ketiganya bekerja di bawah kepemimpinan almarhum pak Hartono, pensiunan tentara, ketua RW, dan penjaga wilayah mulai dari Jl. Pancoran di Glodok sampai Jl. Cengkeh termasuk menjaga proyek ruko milik PT Harmoni Mas di Jl. Kunir, Pinangsia.

Untuk mempermudah pekerjaan mengamankan dan untuk “kekompakan” ketika sewaktu-waktu perlu mengejar perampok, Buyung dan Aritonang meminta izin pada pak Hartono untuk membangun rumah sederhana di pinggir kali di sebelah proyek ruko yang juga menjadi tanggung jawab penjagaan mereka, kata Suhadi.

“Orang Jawa ikut aja. Padang [Minang] dan Medan [Batak] ini berani memang, kalau ngomong, ‘wong, wong, wong, wong’,” kata Suhadi.

Buyung adalah bekas preman. Tapi ia bolak-balik ditangkap Hartono. “Dulu belum ada UU HAM, Buyung habis digebukin,” kata Suhadi.

Akhirnya Buyung memutuskan berhenti jadi preman dan malah bekerja untuk menjaga keamanan. “Jadi nurut, berkembang, dan jadi manusia seutuhnya,” demikian penggambaran Suhadi atas transformasi temannya. Salah satu ujian bagi Buyung adalah menangkapi preman yang juga teman sendiri, sampai-sampai hampir dibunuh teman. “Sudah ditodong pisau kiri kanan,” kata Suhadi.

Tapi Buyung selamat bahkan menjadi tokoh andalan aparat kelurahan. Sehingga ketika Hartono meninggal tahun 1990-an, Buyung, bekas preman itu diminta menjadi ketua RW setelah sederetan ketua RW lain tidak tahan lama.

Aritonang yang pertama meninggalkan kampung sementara Buyung dan Suhadi terus tinggal di Kunir, menjadi saksi dan pelaku pengembangan kampung dari deretan gubuk ditutup kardus hingga berangsur-angur menjadi kampung tempat membangun keluarga yang tertata rapi, asri, dan bersih.

Buyung meninggal tahun 2006 di Kampung Kunir dan tinggal Suhadi lah yang kemudian menyaksikan kehancurannya di tahun 2015 ketika sekitar 100 keluarga digusur.

“Kalau dia tahu digusur, pasti marah sekali pak Buyung,” kata Suhadi.

‘Hawa Seneng’ Mengawali Sejarah Kampung

Semua yang hijau di kampung asri ini sudah diganti oleh beton dan semen. Hawa sore itu masih menyisakan panas siang hari di pinggir kali dan debu beterbangan bebas tanpa penghalang.

“Waktu itu mau punya rumah, hawanya seneng,” kata Suhadi. Selama babat alang-alang sampai sekarang tidak ada yang pernah menghalangi atau bertanya ini tanah siapa, kata Suhadi. Tanah di situ sejak awal sudah keras sehingga para pembabat alang-alang ini tak perlu bekerja keras menguruk. Sumur pun bening, kata Suhadi. Semua mudah dan senang meski pacul harus beli sendiri.

Suhadi dan istri, Sukimiyati (60) berpose di jalan inspeksi yang menggantikan rumah mereka. Keluarga ini bertahan di rumah triplek (kanan) sejak rumah mereka selama 35 tahun digusur tahun 2015. ©Jurnasyanto Sukarno

Ketika ruko dibangun, antara lokasi proyek dan kali ada seng pembatas dan di balik seng ada tanah yang cukup untuk membangun rumah. Sesama penjaga berembuk dan terbit gagasan membangun rumah seadanya di lahan pinggir kali tersebut. “Daripada kontrak atau kos. Waktu itu ada yang sudah berkeluarga ada yang belum” kata Suhadi.

Hartono memberi izin membuka lahan untuk rumah para penjaga, kala itu disebut “hansip”, kependekan dari pertahanan sipil. Satu penjaga, termasuk Hartono sendiri, kebagian panjang 5 meter dan lebar 4 meter untuk membangun rumah, di pinggir anak kali Ciliwung.

Pada awalnya ada sekitar 30 gubuk yang dihuni oleh para hansip, pengurus RW, dan keluarga mereka. Yang sudah punya rumah pun bisa membangun di situ, ujar Suhadi, untuk mempermudah koordinasi keamanan wilayah.

Warga Menata Kampung

Sejak berdirinya di tahun 1980-an, warga perlahan-lahan menata sendiri kampungnya, terkadang dengan bantuan kelurahan yang berhubungan baik dengan warga, juga bantuan pemilik ruko di belakang kampung. Kelurahan kadang mengirim bibit-bibit pohon untuk ditanam di Kunir.

Sejak awal, berbeda dengan kebanyakan kampung pinggir kali di tahun 1980an, rumah-rumah Kampung Kunir sudah menghadap kali, karena mereka tidak boleh menghadap ruko. Di tahun 1990an ada beberapa kampung pinggir kali di Jakarta yang berinisiatif berbalik 180 derajat menjadi menghadap kampung untuk menunjukkan komitmen bahwa mereka menjaga kali yang ada di hadapan mereka.

Meski demikian, kampung ini tidak mendadak menjadi kampung hijau dan bersih. Awalnya hanya gubuk ditutupi kardus, lalu menjadi kayu dan triplek berbentuk rumah panggung. Baru pada 1990-an mulai ada perubahan bentuk rumah, bukan panggung lagi dan menjadi rumah semi permanen dengan tembok dan bata, berlantai keramik.

Dulu mereka mandi dan buang air langsung di sungai, belakangan warga membangun kamar mandi dan WC yang lebih layak. Tetapi mereka memang tidak membangun septic tank, jadi limbah langsung ke sungai.

Lalu listrik masuk dan belakangan rumah-rumah di sana dialiri air PAM. Tetapi Kunir tidak termasuk kampung yang mendapatkan bantuan Mohamad Husni Thamrin atau Kampung Improvement Project di tahun-tahun itu. “Mungkin banyak kampung lain yang lebih membutuhkan,” kata Suhadi.

Warga bergotong royong membangun tempat belajar pendidikan anak usia dini (PAUD), musala, ruang taman penghijauan, dan pos RW. Anggaran dana yang didapat pada saat itu dari wilayah sekitaran ruko, yang membantu warga Kampung Kunir.

Bukan hanya itu, warga kampung Kunir dikenal aktif mendukung program pemerintah. Mereka adalah andalan kelurahan di saat ada perlombaan tingkat kota atau provinsi. Segala macam lomba telah mereka ikuti, mulai dari lomba kampung sampai gerak jalan.

Warga sempat menyelamatkan piala-piala mereka saat beko menggaruk rumah-rumah mereka jadi debu. Lalu piala-piala penghargaan dari pemerintah itu mereka tata di sebuah meja di antara reruntuhan. Lama kelamaan piala-piala ini hilang satu per satu. “Warga lama-lama kesal melihatnya, karena tak ada artinya, jadi ya begitulah, akhirnya satu-satu hilang,” ujar Marsa.

Rasa Bangga akan Kampung

Warga kampung tidak terima jika dibilang kumuh. Dibanding kampung lain, warga Kunir termasuk yang merasa dirinya tidak akan kena gusur karena bukan hanya hijau, asri, dan bersih, mereka juga memposisikan diri sebagai “mitra” kelurahan.

“Kayak keluarga dengan kelurahan,” kata Suhadi. “Kami semua ikut arahan dari kelurahan semua, mulai dari pengadaan listrik, pajak bumi bangunan, dan air PAM.”

Kampung mereka juga tidak pernah ada masalah premanisme atau narkoba. Mereka hanya kena banjir saat hampir seluruh Jakarta tergenang air. “Kalau sampai di sini banjir artinya di istana sudah duluan kena,” kata Suhadi. “Semua tenang di sini.”

“Ga pernah bayangkan sampai begini, sampai habis,” kata Suhadi. “Waktu penggusuran saya spaneng, bingung, dokumen segala tidak disimpan.”

Wilastri adalah salah satu pegiat tanaman obat keluarga (toga) juga juru pemantauan jentik (jumantik) yang dilatih kelurahan. Wilastri dan suaminya Suswantoro, membeli rumah di Kampung Kunir tahun 2006 dan menurut Wilastri saat itu sudah banyak pepohonan. “Ada sirsak, ada pepaya,” katanya.

Suswantoro, Wilastri Nilasari, dan anak kedua mereka berpose di depan rumah tempat mereka bertahan selama dua tahun. ©Jurnasyanto Sukarno

Lalu ketika dari kelurahan ada program gerakan menanam tanaman obat, ia termasuk yang paling giat karena Wilastri senang merawat tumbuhan. Bahkan selepas penggusuran, Wilastri masih melakukan aktivitas itu, di bedeng sederhana yang didirikan di bekas lahan rumah-rumah mereka di depan ruko. Ada yang di pot, ada yang tumbuh di tanah.

Suami Wilastri, Suswantoro, adalah mantan sekretaris RT saat penggusuran. Ia menempelkan kertas di rumah-rumah: “Jangan buang sampah sembarangan karena kita bukan orang sembarangan”.

Setelah digusur, Suswantoro masih menyimpan kertas itu dan sekarang ditempel di bedeng sederhana mereka.

Selain kerja bakti dua minggu sekali, warga juga punya kesadaran tinggi, kata Wilastri. “Kalau ada yang ketahuan buang sampah di kali, langsung disorakin,” katanya.

Wisata Yuk ke Kota Tua!

Setelah penggusuran warga tersebar ke beberapa tempat. Ada sebagian yang mengambil tawaran rusun dari pemerintah provinsi DKI, tapi banyak yang menyewa rumah di sekitar Kampung Kunir. Bahkan ada tujuh keluarga yang bertahan di lokasi bekas rumah mereka, termasuk keluarga Suhadi dan Wilastri.

Warga Kunir memanfaatkan momentum politik elektoral tahun 2017 untuk melakukan kontrak politik dengan gubernur terpilih Anies Baswedan. Saat ini warga aktif melakukan perencanaan kampung masa depan mereka dibantu oleh Arsitek Tanpa Batas juga aktif berorganisasi bersama Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) untuk memastikan gubernur terpilih tidak ingkar janji.

Sekitar 30 keluarga masih menjaga tali silaturahmi dan berencana membangun kembali kampung. Di bulan Agustus 2017 mereka membangun musala sederhana di bekas reruntuhan. ©Jurnasyanto Sukarno

Keinginan mereka adalah membangun di lokasi yang sama karena banyak di antara mereka adalah pedagang yang bergantung pada wisata Kota Tua. Lokasi mereka hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Taman Fatahillah.

Salah satu warga yang berdagang, Haris, 41, saat ini menyewa rumah di Pademangan, Jakarta Utara, sekitar 2 kilometer dari Fatahillah. Haris, yang berjualan jam tangan, berharap Kampung Kunir bisa dibangun lagi sehingga mudah baginya untuk mencapai tempat usahanya. Demikian juga istri Suhadi, ibu Sukimiyati, yang berdagang ketoprak di daerah Kota Tua.

Suswantoro, dulu sopir pribadi, dan Wilastri, dulu guru PAUD, sekarang mengandalkan nafkah dari warung kecil yang mereka bangun di bekas reruntuhan kampung mereka. Suswantoro berkata Kampung Kunir memiliki hubungan erat dengan Kota Tua dan industri wisatanya. Tetapi bagi warga, bukan hanya urusan ekonomi yang membuat mereka bertahan, tetapi juga hubungan antar manusia.

“Kami ingin ini dibangun lagi seperti semula, kumpul lagi, dan ada rasa kebersamaan seperti dulu,” kata Suswantoro.

Penulis : Evi Mariani, editor The Conversation Indonesia
Fotografer : Jurnasyanto Sukarno
Reporter : Norman Aldin, pemuda relawan Kampung Kunir
Sandi Maulanah, pemuda relawan Kampung Kunir
Syahar Banu, Islam Bergerak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *